Keuangan.id – 14 April 2026 | Harga tiket pesawat kembali menjadi sorotan publik setelah lonjakan harga bahan bakar avtur mencapai lebih dari 70 persen pada April 2026. Kenaikan ini menambah beban biaya perjalanan, terutama bagi pelancong domestik yang mengincar rute populer seperti Jakarta‑Bali, Jakarta‑Surabaya, dan Jakarta‑Medan. Pemerintah menanggapi situasi dengan serangkaian kebijakan mitigasi, termasuk batas kenaikan tarif maksimal 13 persen, subsidi PPN, dan penyesuaian fuel surcharge menjadi 38 persen. Meskipun begitu, harga pasar tetap berada di atas batas historis, memaksa para traveler mencari strategi hemat agar tidak terkuras dompet.
Faktor Penyebab Kenaikan Tiket
Avtur menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional maskapai. Kenaikan harga avtur dari Rp13.656 per liter pada Maret menjadi Rp23.551 per liter pada April menambah tekanan pada struktur tarif. Pemerintah memberikan insentif berupa pembebasan bea masuk suku cadang pesawat dan subsidi PPN senilai Rp2,6 triliun untuk menahan laju inflasi tarif. Namun, maskapai tetap menyesuaikan harga tiket untuk menutup selisih biaya bahan bakar.
Data terbaru menunjukkan harga tiket pulang‑pergi pada rute-rujukan:
- Jakarta‑Surabaya: Rp2,4‑2,5 juta (normal Rp1,65‑2,15 juta)
- Jakarta‑Medan: Rp3,5‑4,6 juta (normal Rp2,7‑3,3 juta)
- Jakarta‑Bali: Rp3,6‑4,0 juta (normal Rp1,95‑2,45 juta)
- Jakarta‑Singapura: Rp4,0‑4,3 juta (normal Rp1,75‑2,65 juta)
Maskapai seperti Lion Air, Citilink, Garuda Indonesia, dan Batik Air masing‑masing menawarkan tarif di atas batas atas historis, mencerminkan dampak langsung avtur terhadap konsumen.
Langkah Pemerintah untuk Menahan Harga
Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan tiga langkah utama: subsidi PPN DTP, penetapan fuel surcharge seragam 38 persen, serta pembebasan bea masuk untuk suku cadang pesawat. Kebijakan ini diharapkan menurunkan beban operasional maskapai sehingga tarif tidak melambung lebih tinggi dari batas 9‑13 persen yang telah ditetapkan.
5 Tips Travel Anti Boncos di Tengah Kenaikan Harga Tiket
- Pesan Lebih Awal dan Manfaatkan Promo Musiman. Harga tiket cenderung stabil atau bahkan turun pada hari Selasa‑Rabu. Memanfaatkan penawaran early‑bird atau diskon khusus pada periode libur panjang dapat mengurangi biaya hingga 15 persen.
- Bandingkan Harga di Berbagai Platform. Gunakan mesin pencari tiket, aplikasi maskapai, serta layanan travel aggregator. Perbedaan harga antar platform bisa mencapai ratusan ribu rupiah, terutama pada rute populer.
- Pilih Bandara Alternatif. Untuk destinasi seperti Bali, pertimbangkan penerbangan ke Bandara Lombok atau Bandara Surabaya lalu melanjutkan perjalanan darat atau laut. Kombinasi ini sering kali lebih murah dibandingkan penerbangan langsung ke Bandara Internasional Ngurah Rai.
- Manfaatkan Program Loyalty dan Cashback. Kartu kredit dengan poin travel, serta program frequent flyer maskapai, dapat mengonversi pengeluaran menjadi tiket gratis atau potongan harga signifikan.
- Hindari Fuel Surcharge Tinggi dengan Memilih Maskapai yang Menawarkan Tarif All‑Inclusive. Beberapa maskapai menyertakan fuel surcharge dalam harga tiket dasar, mengurangi kejutan biaya tambahan saat checkout.
Dengan menerapkan strategi di atas, pelancong dapat mengurangi dampak kenaikan tiket dan tetap menikmati liburan tanpa mengorbankan keuangan.
Kesimpulan
Kenaikan harga avtur yang drastis pada awal 2026 memicu lonjakan tarif tiket pesawat, terutama pada rute domestik utama. Pemerintah telah mengambil langkah-langkah mitigasi, namun pasar masih menunjukkan harga di atas batas historis. Traveler yang cerdas dapat mengatasi situasi ini dengan memesan lebih awal, membandingkan platform, memilih bandara alternatif, memanfaatkan program loyalti, serta memilih maskapai dengan struktur tarif all‑inclusive. Langkah‑langkah tersebut menjadi kunci untuk tetap dapat berwisata tanpa menguras kantong di tengah dinamika biaya energi global.











