Keuangan.id – 21 April 2026 | Pada Senin, 20 April 2026, pasar energi global kembali diguncang oleh ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Insiden penembakan kapal kontainer Iran serta serangan terhadap tanker menambah kecemasan investor, memicu lonjakan signifikan pada harga minyak mentah dunia.
Gejolak di Selat Hormuz dan Dampaknya pada Harga Crude
Selat Hormuz menyumbang sekitar 20% pasokan minyak dunia. Penutupan sementara jalur ini oleh Iran, serta blokade laut yang diterapkan AS, menyebabkan pasar menilai risiko suplai meningkat. Akibatnya, indeks West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 5,6% menjadi US$ 88,54 per barel, sementara Brent untuk pengiriman Juni menguat 4,3% menjadi US$ 94,18 per barel pada pukul 06.09 WIB.
Pergerakan Harga Brent dan WTI
Data dari bursa komoditas menunjukkan kenaikan harian Brent mencapai US$ 6,11 atau 6,76%, menembus level US$ 96,49 per barel pada akhir perdagangan. WTI mencatat kenaikan 7,79% menjadi US$ 90,38 per barel. Analis ING, Warren Patterson, menyebut bahwa volatilitas ini berasal dari “sentimen geopolitik yang berubah-ubah dalam hitungan jam”.
Dampak pada Harga Minyak Goreng di Indonesia
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa 57,5% kabupaten/kota mengalami kenaikan harga minyak goreng pada pekan ketiga April 2026. Rata‑rata nasional naik dari Rp 19.358 menjadi Rp 19.592 per liter, dengan harga tertinggi mencapai Rp 60.000 per liter di Kabupaten Intan Jaya, Papua. Kenaikan 1,21% dibanding Maret 2026 menambah beban rumah tangga.
Kenaikan BBM Nonsubsidi dan Faktor Penetapan Harga
Meski harga minyak dunia sempat turun pada 17 April setelah Iran membuka kembali Selat Hormuz, pemerintah Indonesia tetap menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Pertamax Turbo kini dijual Rp 19.400 per liter (naik Rp 6.300), Dexlite Rp 23.600 (naik Rp 9.400), dan Pertamina Dex Rp 23.900 (naik Rp 9.400). Menurut anggota Dewan Energi Nasional, penetapan harga mengacu pada Mean of Platts Singapore (MOPS) yang telah melambung akibat konflik geopolitik.
Analisis dan Prospek
Secara keseluruhan, kombinasi antara gejolak Timur Tengah, fluktuasi harga crude, dan tekanan logistik domestik memperkuat tren inflasi energi. Jika blokade di Hormuz tetap berlanjut, pasar dapat menyaksikan kenaikan lebih lanjut pada kedua indeks utama serta tekanan tambahan pada harga komoditas makanan, terutama minyak goreng. Pemerintah Indonesia diperkirakan akan terus menyesuaikan tarif BBM sesuai dengan formula MOPS, sambil berupaya menjaga ketersediaan stok di pasar ritel.
Para pelaku industri dan konsumen diharapkan memantau perkembangan geopolitik serta kebijakan harga energi untuk mengantisipasi volatilitas yang masih tinggi.











