Keuangan.id – 21 April 2026 | Jakarta, 20 April 2026 – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pasokan LPG dalam negeri tetap aman dan tidak mengalami defisit pada tahun ini. Pernyataan tersebut disampaikan pada konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, menjelang peluncuran strategi baru untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi.
Alokasi Produksi Gas dan Komitmen Ekspor
Bahlil menjelaskan bahwa alokasi produksi gas, termasuk Liquefied Natural Gas (LNG), untuk konsumsi domestik telah dipastikan tercukupi. Total produksi gas nasional diperkirakan akan dialokasikan sekitar 70‑80 persen untuk pasar dalam negeri, sementara 28‑30 persen sisanya akan dipertahankan untuk memenuhi komitmen ekspor ke pasar luar negeri.
“Alokasi untuk konsumsi dalam negeri di tahun 2026 sudah clear. Termasuk dengan komitmen kita terhadap market di luar negeri, sekitar kurang lebih 28 sampai 30 persen total produksi gas kita, itu memang ekspor untuk memenuhi komitmen dengan pasar luar negeri,” ujar Bahlil.
Situasi Defisit yang Tidak Ditemui
Setelah mengalami kekhawatiran pada tahun 2025, ketika terjadi defisit sekitar 40‑50 kargo gas, Kementerian ESDM kini menyatakan tidak ada lagi defisit. “Nggak ada. Nggak ada defisit,” tegas Bahlil, menambahkan bahwa langkah‑langkah penyesuaian produksi dan penambahan kapasitas penyimpanan berhasil menstabilkan pasokan.
Strategi Mengurangi Impor LPG
Strategi utama pemerintah adalah mengalihkan ketergantungan pada impor LPG dengan memperkuat produksi dalam negeri serta memanfaatkan cadangan gas baru yang ditemukan oleh perusahaan energi internasional, Eni. Sumur eksplorasi Geliga‑1 di Blok Ganal, Cekungan Kutai, diperkirakan mengandung sekitar 5 triliun kaki kubik gas dan 300 juta barel kondensat. Produksi dari sumur ini diharapkan mulai beroperasi pada tahun 2028.
“Ini strategi agar gas kita tidak impor, kita penuhi dalam negeri, dan dorong untuk hilirisasi. Selain itu juga kurangnya impor crude dengan adanya penambahan kondensat,” kata Bahlil.
Pengaruh Harga Global Terhadap LPG
Meski pasokan stabil, harga LPG masih dipengaruhi oleh dinamika pasar global. Bahlil mencatat bahwa harga dapat turun jika kondisi pasar internasional membaik, namun tetap waspada terhadap fluktuasi yang dapat mempengaruhi konsumen domestik.
Langkah Tambahan Jika Permintaan Meningkat
Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat, permintaan energi, termasuk LPG, diprediksi akan naik. Bahlil menegaskan kesiapan pemerintah untuk menyiapkan langkah strategis tambahan, seperti mempercepat pembangunan infrastruktur regasifikasi, meningkatkan kapasitas penyimpanan, dan memperluas jaringan distribusi LPG di wilayah terpencil.
- Memperkuat produksi domestik melalui investasi di bidang eksplorasi dan produksi gas.
- Mengoptimalkan penggunaan kondensat sebagai bahan bakar alternatif.
- Menjaga keseimbangan antara ekspor dan kebutuhan dalam negeri.
- Mengawasi harga global untuk menyesuaikan kebijakan subsidi bila diperlukan.
Secara keseluruhan, kebijakan ini diharapkan dapat menurunkan volume impor LPG, meningkatkan kemandirian energi, serta menjaga stabilitas harga bagi konsumen Indonesia.
Dengan langkah‑langkah tersebut, pemerintah menegaskan kembali komitmen untuk menyediakan energi yang cukup, terjangkau, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.











