Keuangan.id – 09 Maret 2026 | Indonesia menghadapi gelombang peningkatan kasus campak yang mengkhawatirkan pada awal 2026. Data terbaru menunjukkan adanya enam kematian balita yang tidak pernah menerima imunisasi campak, sementara jumlah kasus suspek terus melonjak meski upaya penanggulangan terus digencarkan.
Data Kasus Terbaru
Menurut Kementerian Kesehatan, hingga minggu ke‑8 tahun 2026 tercatat 10.453 kasus suspek campak, dengan 8.372 kasus terkonfirmasi. Sebanyak enam anak meninggal dunia, semuanya balita yang tidak memiliki riwayat imunisasi. Pada tahun lalu, kasus suspek mencapai 64.822, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, dan sejak 2025 hingga 2026 tercatat 72 kematian akibat penyakit ini.
Data lain yang dilaporkan pada 23 Februari 2026 menyebutkan 8.224 kasus suspek campak dalam dua bulan pertama tahun ini, menandakan potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) bila tidak segera ditangani.
Penyebab Turunnya Cakupan Vaksinasi
- Gangguan layanan vaksinasi selama pandemi COVID‑19 yang mengakibatkan penurunan aktivitas imunisasi rutin.
- Kekhawatiran orang tua terhadap keamanan vaksin, dipicu oleh narasi antivaksin yang tersebar di media sosial.
- Kurangnya akses layanan kesehatan di daerah terpencil, memperpanjang jarak tempuh keluarga untuk mendapatkan vaksin.
Penurunan cakupan vaksinasi diperkirakan mencapai 25 %, yang menurut riset dapat memicu kembalinya campak sebagai endemi dalam 5‑10 tahun ke depan.
Suara Masyarakat dan Dampak Nyata
Zahrotut Taubah, seorang warga Dusun Gang Asam, Desa Guluk‑guluk, Sumenep, Jawa Timur, mengakui bahwa anaknya berusia empat tahun belum menerima imunisasi campak. “Orang banyak ngomong kalau divaksin anaknya nanti panas, bahkan bisa meninggal,” ujarnya, menambahkan bahwa keputusan vaksinasi harus mendapat persetujuan suami.
Di Denpasar, dr. Putu Siska Suryaningsih melaporkan balita yang dirawat karena demam, ruam, dan komplikasi paru‑paru. Orang tua pasien mengaku menolak vaksin karena dua anak sebelumnya tidak terkena campak, sehingga mereka menganggap vaksin tidak diperlukan.
Pernyataan Ahli dan Upaya Pemerintah
Dr. Riris Andono Ahmad, epidemiolog Universitas Gadjah Mada, menekankan pentingnya herd immunity. “Ketika cakupannya di bawah level yang sesuai, kekebalan populasi tidak cukup untuk mencegah transmisi,” ujarnya.
Dr. Ratni Indrawanti (UGM) menambahkan bahwa satu kasus campak dapat menularkan virus ke hingga 18 orang, dengan kemampuan virus bertahan di udara selama dua jam di ruangan tertutup.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa vaksin campak telah melalui evaluasi ketat terkait keamanan, mutu, dan khasiat. “Apapun yang kita lakukan harusnya untuk menyelamatkan nyawa. Hoaks antivaksin justru membahayakan anak-anak,” katanya dalam konferensi pers pada 9 Maret 2026.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, dr. Andi Saguni, melaporkan penambahan satu kasus kematian pada minggu ke‑7, menegaskan pentingnya percepatan penanganan kasus dan peningkatan cakupan imunisasi.
Langkah Konkret yang Direkomendasikan
- Penguatan surveilans kasus di tingkat daerah untuk deteksi dini.
- Percepatan kampanye vaksinasi massal, khususnya di wilayah dengan cakupan di bawah 80 %.
- Peningkatan edukasi publik melalui media terpercaya, melawan misinformasi dan hoaks antivaksin.
- Memperluas akses layanan imunisasi dengan mobile clinic di daerah terpencil.
Selain itu, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait vaksin, serta menekankan bahwa vaksinasi tetap menjadi cara paling efektif untuk melindungi anak dari komplikasi serius seperti pneumonia atau radang paru‑paru.
Dengan kombinasi upaya medis, edukasi, dan kebijakan yang terkoordinasi, para pakar optimis bahwa lonjakan kasus campak dapat dikendalikan sebelum mencapai titik kritis.
Situasi ini menjadi pengingat keras bahwa menurunnya cakupan vaksinasi tidak hanya meningkatkan risiko individu, melainkan mengancam kesehatan seluruh komunitas.











