Menpora Malaysia Ungkap Dilema Hak Siar Piala Dunia 2026: Indonesia Juga Tanpa Hak Siar Resmi

Menpora Malaysia Ungkap Dilema Hak Siar Piala Dunia 2026: Indonesia Juga Tanpa Hak Siar Resmi
Menpora Malaysia Ungkap Dilema Hak Siar Piala Dunia 2026: Indonesia Juga Tanpa Hak Siar Resmi

Keuangan.id – 21 April 2026 | Jakarta, 20 April 2026 – Menpora Malaysia, Datuk Seri Khairy Jamaluddin, mengemukakan pandangannya terkait situasi belum adanya hak siar resmi untuk Piala Dunia 2026 di wilayah Asia Tenggara. Pernyataan tersebut muncul beriringan dengan upaya Indonesia melalui TVRI memperluas akses tontonan sepak bola lewat program nobar “Bola Gembira” meski belum memegang hak siar utama turnamen.

Menpora Malaysia Soroti Kekosongan Hak Siar

Dalam sebuah konferensi pers virtual, Menpora Malaysia menegaskan bahwa negara tetangganya belum memperoleh lisensi siaran televisi maupun platform digital untuk menyiarkan pertandingan Piala Dunia 2026. “Kita semua menantikan turnamen terbesar ini, namun tanpa hak siar resmi, kami harus mencari alternatif yang adil bagi penggemar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Malaysia sedang bernegosiasi dengan FIFA dan penyedia hak siar global untuk memperoleh paket siaran berbayar yang dapat diakses secara luas.

TVRI Indonesia Siapkan Program Nobar sebagai Solusi Sementara

Sementara itu, TVRI, sebagai lembaga penyiaran publik Indonesia, meluncurkan inisiatif “Nobar Bola Gembira” menjelang Piala Dunia 2024 dan 2026. Program ini memberi kesempatan kepada pemilik usaha dan fasilitas publik untuk mendaftarkan tempat nobar berlisensi, baik komersial maupun non‑komersial. Menurut Retno Wulan Kartiko Purbodjati, Direktur Pengembangan dan Usaha LPP TVRI, inisiatif tersebut bertujuan menyalurkan euforia sepak bola ke seluruh lapisan masyarakat, terutama di daerah yang masih terbatas akses siaran berkualitas.

Langkah TVRI ini tidak mengklaim memiliki hak siar resmi Piala Dunia 2026, melainkan berfokus pada penyediaan ruang publik yang dapat menyiarkan siaran berbayar melalui mitra internasional yang telah memperoleh lisensi. “Kami berkomitmen menyediakan tayangan yang dapat diakses secara luas, termasuk 104 pertandingan Piala Dunia 2026,” kata Retno.

Perbandingan dengan Hak Siar Badminton Thomas‑Uber 2026

Sebagai gambaran, hak siar Piala Thomas‑Uber 2026 dipegang oleh Emtek Group melalui platform streaming Vidio serta kanal berbayar Nex Parabola. Meskipun demikian, TVRI belum memberikan keterangan resmi mengenai penayangan turnamen tersebut secara free‑to‑air. Hal ini menegaskan pola umum di Indonesia: hak siar utama masih berada di tangan platform komersial, sementara lembaga publik berperan sebagai fasilitator akses.

Implikasi bagi Penonton di Malaysia dan Indonesia

Kekosongan hak siar menimbulkan tantangan bagi penggemar di kedua negara. Di Malaysia, menonton secara legal biasanya melalui saluran berbayar atau layanan streaming internasional yang menuntut biaya berlangganan tinggi. Di Indonesia, meski TVRI menggelar program nobar, penonton tetap harus mengandalkan sinyal televisi berbayar atau layanan streaming berlisensi yang belum terjangkau semua kalangan.

Para analis sport menyarankan bahwa federasi sepak bola masing-masing negara perlu berkoordinasi lebih intensif dengan FIFA untuk mengamankan paket hak siar yang inklusif, terutama mengingat potensi pendapatan iklan dan dampak sosial yang signifikan dari turnamen seluas ini.

Harapan Kedepan dan Upaya Negosiasi

Menpora Malaysia menutup pernyataannya dengan harapan bahwa negosiasi akan menghasilkan paket hak siar yang lebih terjangkau, memungkinkan penonton menonton secara legal tanpa harus bergantung pada kanal premium. “Kami ingin setiap warga Malaysia dapat menonton Piala Dunia di ruang tamu mereka, bukan hanya di kafe atau bar berbayar,” tutupnya.

Di Indonesia, TVRI terus mengoptimalkan program “Bola Gembira” dengan mengajak pemilik tempat usaha mendaftar lisensi nobar melalui portal resmi, sambil menunggu kejelasan perjanjian hak siar dengan penyedia internasional. Upaya kolaboratif ini diharapkan dapat menutup kesenjangan akses dan memberikan pengalaman menonton yang memuaskan bagi seluruh lapisan masyarakat di Asia Tenggara.

Dengan tantangan yang ada, baik Malaysia maupun Indonesia menunjukkan komitmen kuat untuk menjamin bahwa semangat Piala Dunia 2026 dapat dinikmati oleh semua, meski hak siar resmi masih menjadi teka‑teki yang harus dipecahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *