Keuangan.id – 21 April 2026 | PSBS Biak, klub sepakbola asal Papua yang dijuluki Badai Pasifik, kini berada dalam bayang‑bayang krisis finansial yang mengancam kelangsungan operasionalnya. Pada minggu ini, laporan mengungkap bahwa para pemain belum menerima gaji selama tiga bulan terakhir, memicu kegelisahan di antara jajaran staf dan menurunkan moral tim yang sedang berjuang di klasemen Super League 2025‑2026.
Sejarah Singkat PSBS Biak dan Peran Owen Rahadiyan
PSBS Biak menapaki puncak prestasi pada masa kepemilikan Owen Rahadiyan, mantan pemilik sekaligus tokoh penting dalam pengembangan klub. Selama masa itu, klub berhasil meraih tiket promosi ke Super League dan menegaskan stabilitas keuangan yang cukup kuat. Owen mengakui bahwa pada periode tersebut, klub mampu menyeimbangkan antara kebutuhan logistik, gaji pemain, dan investasi infrastruktur.
Situasi Keuangan Saat Ini
Namun, setelah Owen mengundurkan diri karena konflik internal, kondisi keuangan PSBS berubah drastis. Pendapatan sponsor menurun, dan dukungan dana pemerintah daerah tidak cukup untuk menutup biaya operasional bulanan. Akibatnya, klub harus menunda pembayaran gaji, menunda pemeliharaan fasilitas latih, serta menunda pembelian perlengkapan baru.
Ketidakpastian keuangan ini tidak hanya memengaruhi pemain, tetapi juga mengganggu performa tim di lapangan. Pada pekan terakhir, PSBS berada di zona degradasi dan berisiko turun ke Championship musim depan jika tidak memperbaiki hasil pertandingan.
Pernyataan Owen Rahadiyan
Menanggapi krisis yang melanda mantan klubnya, Owen Rahadiyan memberikan pernyataan kepada media pada Senin (20/4/2026). Ia menegaskan, “Mengelola sebuah klub sepakbola profesional bukan perkara mudah, terutama bagi tim yang berasal dari Papua dengan tantangan logistik dan keuangan yang khusus.” Owen juga mengingat kembali masa‑masanya ketika klub tak dapat bermarkas di Biak pada musim sebelumnya, sebuah pengalaman yang memperkaya pemahamannya tentang manajemen klub yang profesional.
Dalam wawancara, Owen menambahkan, “PSBS Biak akan selalu memiliki tempat khusus di hati saya. Ini adalah klub pertama yang saya kelola secara mendalam.” Ia menegaskan dukungan moralnya kepada para pemain dan staf yang sedang berada dalam kondisi sulit, serta berharap mereka tetap menunjukkan profesionalisme hingga akhir musim.
Dampak terhadap Pemain dan Staf
Para pemain PSBS Biak melaporkan tekanan mental yang meningkat akibat belum menerima gaji. Beberapa dari mereka mempertimbangkan opsi pemutusan kontrak bila situasi tidak segera membaik. Sementara itu, staf pelatih harus menyesuaikan taktik dengan sumber daya yang terbatas, termasuk minimnya fasilitas kebugaran dan perawatan medis.
Meski demikian, semangat juang tetap terlihat. Pada pertandingan terakhir, PSBS berhasil mencuri poin penting melawan tim lawan yang lebih berduit, menunjukkan bahwa tekad tim belum padam sepenuhnya.
Langkah Penyelesaian dan Harapan
Pihak manajemen PSBS sedang mencari solusi jangka pendek, termasuk negosiasi ulang dengan sponsor lama, pencarian investor baru, dan pengajuan bantuan dari Asosiasi Sepakbola Indonesia (PSSI). Owen Rahadiyan berharap upaya tersebut dapat mempercepat pemulihan keuangan klub.
“Saya berharap tim ini tetap kuat dan bisa melewati fase ini. Semoga mereka mampu menyelesaikan musim dengan baik. Saya mendoakan yang terbaik untuk semuanya,” tutup Owen dalam pernyataannya.
Dengan dukungan dari seluruh elemen—pemain, pelatih, suporter, dan pihak sponsor—PSBS Biak diharapkan dapat mengatasi krisis ini dan kembali berkompetisi di level tertinggi sepakbola Indonesia.









