Keuangan.id – 15 April 2026 | Moody’s Investors Service baru‑baru ini menurunkan peringkat instrumen Additional Tier 1 (AT1) milik Bank Negara Indonesia (BNI) menjadi Ba3 (kategori hyb). Penurunan ini menandakan bahwa instrumen tersebut berada tiga tingkat di bawah peringkat investasi, menandai peningkatan risiko bagi pemegang obligasi hybrid.
Instrumen AT1 merupakan obligasi hybrid yang menggabungkan karakteristik utang dan ekuitas. Bank mengeluarkan AT1 untuk memperkuat basis modal inti, namun karena sifatnya yang dapat dikonversi menjadi saham atau dibatalkan pada saat terjadi stres keuangan, rating yang lebih rendah mencerminkan potensi kerugian yang lebih tinggi bagi investor.
Berikut beberapa faktor utama yang menjadi pertimbangan Moody’s dalam menetapkan rating Ba3 untuk AT1 BNI:
- Kinerja keuangan BNI: Laporan keuangan terakhir menunjukkan penurunan profitabilitas dan peningkatan rasio NPL (Non‑Performing Loan), yang menurunkan kualitas aset bank.
- Eksposur terhadap risiko makroekonomi: Ketidakstabilan ekonomi domestik dan tekanan pada sektor perbankan menambah beban risiko kredit.
- Kondisi pasar modal: Permintaan investor terhadap obligasi hybrid menurun, sehingga likuiditas instrumen menjadi lebih terbatas.
Implikasi rating Ba3 bagi BNI dan pemegang AT1 meliputi:
| Aspek | Dampak |
|---|---|
| Biaya pendanaan | Peningkatan spread suku bunga, sehingga biaya pinjaman bagi BNI naik. |
| Kepercayaan investor | Penurunan minat investor baru, potensi penjualan sekunder dengan harga lebih rendah. |
| Kepatuhan regulasi | Bank harus memastikan rasio CET1 tetap di atas ambang batas meski beban biaya meningkat. |
Walaupun rating Ba3 menandakan risiko yang lebih tinggi, Moody’s mencatat bahwa BNI masih memiliki profil fundamental yang relatif kuat dibandingkan dengan beberapa pesaing regional. Bank diperkirakan dapat menstabilkan kinerjanya melalui restrukturisasi portofolio kredit, peningkatan efisiensi operasional, dan diversifikasi pendapatan.
Investor yang memegang AT1 BNI disarankan untuk menilai kembali eksposur mereka, memperhatikan prospek pemulihan ekonomi Indonesia, serta mempertimbangkan alternatif investasi dengan rating lebih tinggi untuk mengurangi risiko kredit.











