Keuangan.id – 29 Maret 2026 | Kelompok pemberontak Houthi di Yaman secara resmi bergabung dalam perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat dengan meluncurkan serangkaian rudal balistik ke wilayah selatan Israel pada 28 Maret 2026. Aksi ini menandai eskalasi baru dalam konflik yang sudah berlangsung selama lebih dari satu bulan dan menambah tekanan pada jalur pelayaran strategis Laut Merah.
Latar Belakang Keterlibatan Houthi
Sejak mengambil alih ibu kota Sana'a pada tahun 2014, Houthi telah menjadi kekuatan militer utama di Yaman yang secara konsisten menerima dukungan logistik dan persenjataan dari Iran. Selama konflik Israel‑Hamas, kelompok ini menargetkan kapal‑kapal dagang di Laut Merah sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina, menyebabkan perusahaan pelayaran harus mengambil rute memutar yang lebih mahal. Namun, hingga akhir Maret 2026, Houthi belum terlibat secara langsung dalam konfrontasi antara Iran dan koalisi Barat.
Serangan Rudal Balistik ke Israel
Pada Sabtu pagi, juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengumumkan melalui jaringan televisi satelit Al‑Masirah bahwa kelompoknya telah menembakkan “rentetan rudal jelajah dan drone” yang menargetkan lokasi militer sensitif di selatan Israel, termasuk area sekitar Beer Sheba dan fasilitas riset nuklir. Menurut pernyataan tersebut, serangan ini merupakan bagian dari “operasi berkelanjutan” hingga tujuan strategis tercapai dan agresi terhadap front perlawanan dihentikan.
Militer Israel melaporkan bahwa satu rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Iron Dome, sementara rudal‑rudal lainnya belum terkonfirmasi berhasil mencapai target. Penembakan rudal balistik ini merupakan aksi pertama Houthi yang secara terbuka menargetkan wilayah Israel sejak pecahnya perang Iran‑Israel pada akhir Februari 2026.
Respons Israel dan Sistem Pertahanan
Israel mengaktifkan jaringan peringatan sirene di beberapa kota selatan pada Jumat malam, menjelang peluncuran rudal. Sistem pertahanan udara negara tersebut menyatakan bahwa semua ancaman udara sedang dipantau dan, jika diperlukan, akan diintersep. Hingga kini, belum ada laporan tentang korban jiwa atau kerusakan material di wilayah yang diserang.
Dampak pada Jalur Laut Merah dan Ekonomi Global
Serangan Houthi menambah kekhawatiran tentang keamanan Laut Merah, jalur perdagangan yang menyalurkan barang senilai sekitar 1 triliun dolar AS setiap tahun. Selama konflik Israel‑Hamas, Houthi telah menenggelamkan dua kapal dan menewaskan empat awak kapal, serta menargetkan lebih dari 100 kapal dagang antara November 2023 hingga Januari 2025. Dengan adanya ancaman baru dari udara, operator pelayaran dipaksa mengalihkan rute melalui pelabuhan Salalah di Oman, meningkatkan biaya logistik dan menambah tekanan pada harga energi global.
Arab Saudi pun telah mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya melalui Laut Merah untuk menghindari Selat Hormuz yang menurut Tehran telah ditutup bagi kapal-kapal musuh. Penutupan tersebut, bersama dengan serangan Houthi, memperparah volatilitas pasar minyak dan menimbulkan gelombang kenaikan harga energi di pasar internasional.
Di sisi diplomatik, aksi Houthi memperkuat posisi Iran sebagai katalisator konflik regional. Iran, yang telah meluncurkan serangkaian serangan balistik dan rudal ke wilayah Israel bersama sekutu Hezbollah, kini mendapat dukungan militer tambahan dari Yaman. Hal ini meningkatkan risiko penyebaran konflik ke negara-negara tetangga, termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Oman.
Para analis militer menilai bahwa kemampuan Houthi untuk memproduksi atau memperoleh rudal balistik menandakan peningkatan signifikan dalam kapasitas tempur mereka, yang selama ini lebih dikenal lewat operasi drone dan serangan kapal. Penggunaan rudal balistik menambah dimensi baru pada strategi asimetris Houthi, menimbulkan tantangan bagi sistem pertahanan udara Israel dan sekutunya.
Sejauh ini, tidak ada laporan resmi tentang respons militer balasan langsung dari Israel atau Amerika Serikat terhadap serangan Houthi. Namun, pernyataan resmi dari Pentagon menegaskan kesiapan mereka untuk “menangani setiap ancaman yang muncul dari wilayah Timur Tengah” termasuk potensi eskalasi yang melibatkan kelompok pro‑Iran.
Kesimpulannya, peluncuran rudal balistik oleh Houthi menandai perubahan paradigma dalam dinamika perang antara Iran dan Israel. Keterlibatan aktif milisi Yaman memperluas front konflik, menambah ketidakpastian bagi keamanan maritim Laut Merah, dan memperburuk tekanan ekonomi global yang sudah terasa akibat kenaikan harga minyak. Pengawasan internasional dan upaya diplomatik menjadi semakin krusial untuk mencegah penyebaran lebih luas dari konflik yang kini melibatkan beragam aktor regional.











