Keuangan.id – 07 April 2026 | JAKARTA – Pada Senin (6/4/2026), Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) bersama Angkatan Laut Malaysia melaksanakan latihan bersama di perairan Laut Jawa, menandai peningkatan kerja sama keamanan maritim di kawasan Asia Tenggara. Latihan yang berlangsung selama tiga hari ini melibatkan kapal perusak, kapal patroli, serta unit-unit khusus keduanya, dengan fokus pada operasi anti‑pembajakan, patroli perbatasan laut, dan penanganan ancaman bawah air.
Latihan Berbasis Kesiapan Operasional
Menurut Laksamana Pertama (Laksma) Tunggul, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut, latihan ini dirancang untuk meningkatkan interoperabilitas antara kedua angkatan laut. “Kami melakukan simulasi operasi pencarian dan penanggulangan objek tak dikenal di perairan, termasuk skenario penggunaan drone bawah air yang baru-baru ini ditemukan di Selat Lombok,” ujarnya.
Latihan dimulai dengan penyebaran kapal perusak KRI Makassar‑590 dan KRI Raden Eddi Martadinata‑331 milik TNI AL, serta kapal patroli KD Hang Tuah‑31 dan KD Sri Inderapura‑02 dari Malaysia. Kedua belah pihak melakukan koordinasi taktis melalui jaringan komunikasi yang terintegrasi, serta melaksanakan manuver bersama dalam formasi pertahanan maritim.
Respons Terhadap Temuan Drone Laut
Beberapa minggu sebelumnya, nelayan di perairan Selat Lombok melaporkan penemuan sebuah perangkat bawah laut yang diduga merupakan drone milik negara asing. TNI AL segera mengevakuasi benda tersebut ke Lanal Mataram untuk analisis teknis. Penemuan ini menambah urgensi latihan bersama, mengingat potensi penggunaan teknologi serupa untuk pengintaian tanpa izin di wilayah perairan Indonesia.
Laksma Tunggul menegaskan bahwa latihan ini juga bertujuan mengasah kemampuan deteksi dan identifikasi objek bawah air. “Kami akan menguji kemampuan sonar dan sistem pengawasan bersama, sehingga dapat dengan cepat mengidentifikasi dan menanggapi ancaman yang muncul,” jelasnya.
Kerjasama Multinasional di Kawasan
Latihan di Laut Jawa ini sejalan dengan tren peningkatan kolaborasi militer di Asia Tenggara. Baru-baru ini, Filipina menggelar latihan multilateral SALAKNIB yang melibatkan lebih dari 7.000 pasukan dari Filipina, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia. Meskipun fokus utama latihan Filipina adalah pertahanan darat, keberhasilan tersebut menegaskan pentingnya koordinasi lintas negara dalam menghadapi tantangan keamanan regional.
Indonesia, melalui TNI AL, melihat peluang untuk memperluas jaringan kerja sama dengan negara‑negara tetangga, termasuk Malaysia, yang memiliki kepentingan serupa dalam menjaga keamanan jalur perdagangan laut. Kedua negara berkomitmen untuk memperkuat patroli bersama, berbagi intelijen maritim, serta melakukan latihan rutin guna menanggulangi ancaman seperti penyelundupan, perompakan, dan aktivitas militer tidak sah.
Rangkaian Kegiatan Latihan
- Operasi Pencarian Drone Bawah Air: Simulasi deteksi drone menggunakan sonar aktif dan pasif, serta prosedur penangkapan dan evakuasi.
- Patroli Gabungan: Kapal-kapal melakukan patroli lintas batas wilayah perairan, menguji prosedur koordinasi perbatasan laut.
- Latihan Penanggulangan Kebakaran Kapal: Tim pemadam kebakaran dan penyelamat melakukan latihan evakuasi dan pemadaman pada kapal simulasi.
- Manuver Formasi Pertahanan: Formasi tempur kapal perusak dan kapal patroli dijalankan untuk menguji taktik pertahanan maritim terkoordinasi.
Reaksi Masyarakat dan Pemerintah
Pelaksanaan latihan ini mendapat apresiasi tinggi dari kalangan nelayan dan masyarakat pesisir. Menurut Laksma Tunggul, partisipasi aktif warga nelayan dalam melaporkan temuan benda asing sangat membantu keamanan laut. “Keterlibatan masyarakat lokal merupakan faktor kunci dalam memperkuat pertahanan maritim kami,” ujarnya.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menegaskan bahwa latihan bersama ini selaras dengan kebijakan Nasional Pengamanan Laut, yang menekankan pentingnya kerja sama bilateral dan multilateral untuk menjaga kedaulatan wilayah laut Indonesia.
Kesimpulan
Latihan bersama TNI AL dan Angkatan Laut Malaysia di Laut Jawa menandai langkah strategis dalam memperkuat keamanan maritim kawasan. Dengan mengintegrasikan kemampuan deteksi bawah air, patroli lintas batas, serta respons cepat terhadap ancaman, kedua negara memperkokoh pertahanan wilayah perairan yang vital bagi perdagangan internasional. Keberhasilan latihan ini diharapkan menjadi model bagi kerja sama lebih luas dengan negara‑negara Asia Tenggara lainnya, demi menjaga stabilitas dan keamanan maritim di masa depan.











