Keuangan.id – 14 Mei 2026 | Iran telah memulihkan sebagian besar infrastruktur rudalnya di sekitar Selat Hormuz, meski sebelumnya Amerika Serikat dan Israel menggempur fasilitas militer negara itu. Penilaian intelijen AS menyebut Teheran kini kembali memiliki akses operasional ke sebagian besar lokasi misil strategis di kawasan tersebut.
Menurut penilaian intelijen AS, Iran telah memulihkan akses operasional ke 30 dari 33 lokasi misil di sekitar Selat Hormuz, jalur maritim sempit yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Iran disebut masih mempertahankan sekitar 70 persen stok misil dan peluncur bergeraknya sebelum perang.
Perkembangan Terkini
Laporan The New York Times juga menyebut sekitar 90 persen fasilitas penyimpanan bawah tanah dan lokasi peluncuran misil Iran kini dianggap “sebagian atau sepenuhnya operasional”. Persenjataan Iran disebut mencakup misil balistik yang dapat digunakan untuk menyerang negara-negara tetangga, serta sejumlah misil jelajah jarak pendek.
Iran juga dilaporkan memindahkan persenjataannya menggunakan peluncur misil bergerak ke lokasi lain untuk melindunginya dari serangan AS. Temuan intelijen tersebut menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk mengancam pelayaran komersial dan pasukan angkatan laut AS di kawasan Teluk, meski sebelumnya AS dan Israel melancarkan kampanye udara intensif bernama Operation Epic Fury sejak Februari.
Penilaian itu juga dinilai bertolak belakang dengan klaim berulang Presiden AS Donald Trump dan pejabat senior AS yang sebelumnya menyebut kemampuan militer Iran telah lumpuh akibat konflik tersebut. Bulan lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan mengatakan bahwa operasi itu telah membuat Teheran “tidak efektif untuk bertempur selama bertahun-tahun ke depan.”
Kondisi Terkini di Selat Hormuz
Lebih dari sebulan setelah gencatan senjata diberlakukan, kedua pihak disebut belum mencapai kemajuan dalam kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan. Di saat yang sama, Iran justru tampak memperkuat kontrolnya atas Selat Hormuz. Teheran dilaporkan mencapai kesepakatan dengan Irak dan Pakistan untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan tersebut.
Kantor berita Fars milik Iran juga mengutip seorang pejabat Garda Revolusi Iran (IRGC) yang mengatakan, Iran telah memperluas definisi kawasan Selat Hormuz menjadi zona yang membentang dari kota pesisir Jask di timur hingga Pulau Siri di barat.
Dalam beberapa pekan terakhir, situasi di kawasan Selat Hormuz semakin memanas. Dua kapal perang AS dilaporkan melintasi Selat Hormuz di bawah serangan Iran. Sementara itu, Iran juga dilaporkan melakukan serangan terhadap beberapa kapal tanker minyak di kawasan tersebut.
Oleh karena itu, situasi di kawasan Selat Hormuz tetap tidak stabil dan penuh ketegangan. Konflik antara AS dan Iran masih berlanjut, dan belum ada tanda-tanda bahwa kedua pihak akan segera mencapai kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan.
Situasi ini tentunya sangat memprihatinkan, karena dapat berdampak pada keamanan dan stabilitas kawasan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi ketegangan dan mencapai kesepakatan yang adil dan damai.











