Keuangan.id – 07 April 2026 | Ketegangan geopolitik yang memuncak di kawasan Timur Tengah pada akhir Februari 2026 kembali menggegerkan pasar energi dunia. Iran menuduh secara tegas Amerika Serikat dan Israel sebagai penyebab utama krisis energi global, setelah penutupan de‑facto Selat Hormuz menggoyang stabilitas pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya
Selat Hormuz, selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, menyumbang sekitar 20 % pasokan minyak dan LNG global. Sejak akhir Februari, lalu lintas tanker mengalami penurunan drastis hingga 95 %, memicu lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) melewati US$100 per barel. Kenaikan harga ini menular ke sektor transportasi, industri, dan konsumsi rumah tangga, memperparah inflasi di negara‑negara importir energi.
Krisis ini bukan sekadar masalah harga. Rantai pasok energi terganggu, biaya logistik melonjak, dan volatilitas pasar keuangan meningkat. Dampaknya dirasakan pada defisit fiskal banyak negara, penurunan daya beli, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi yang mengancam stabilitas makro‑ekonomi global.
Iran Menggunakan Selat Hormuz sebagai “Pos Tol”
Iran mengklaim bahwa ia mengendalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz sebagai bentuk “pos tol”, dengan tarif transit hingga US$2 juta per kapal. Negara‑negara sahabat Iran, seperti China, India, dan Rusia, diberikan kelonggaran melewati selat, sementara armada dari negara lain terpaksa menunggu atau mencari rute alternatif yang jauh lebih panjang dan mahal. Kebijakan ini menegaskan bahwa akses ke titik rawan energi kini sangat dipengaruhi oleh orientasi politik.
Respons Iran terhadap Peran AS‑Israel
Dalam pernyataan resmi, pejabat tinggi Iran menuding kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang mendukung Israel dalam konflik bersenjata dengan Iran sebagai pemicu utama eskalasi. Iran menuduh bahwa tindakan AS‑Israel sengaja mengganggu stabilitas energi untuk menekan negara‑negara yang menolak kepatuhan politik Barat. “Selat Hormuz kini menjadi alat tawar menawar, bukan ruang netral,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.
Perspektif Internasional dan Upaya Mitigasi
Menanggapi krisis, International Energy Agency (IEA) dalam laporan akhir 2025 menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi dan penguatan kerja sama internasional. IEA merekomendasikan langkah-langkah berikut:
- Diversifikasi pasokan minyak dan gas dengan meningkatkan impor dari wilayah Afrika Barat, Amerika Latin, dan Asia Tenggara.
- Mempercepat transisi energi bersih untuk mengurangi ketergantungan pada hidrokarbon.
- Penggunaan cadangan strategis: anggota IEA sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat, rekaman pelepasan terbesar dalam sejarah.
Langkah ini diharapkan menstabilkan pasar dan menurunkan tekanan harga dalam jangka pendek, sambil memberikan waktu bagi negara‑negara untuk menyesuaikan kebijakan energi jangka panjang.
Implikasi Ekonomi Global
Krisis energi ini memperkuat persepsi bahwa energi telah bertransformasi menjadi instrumen geopolitik strategis, bukan sekadar komoditas ekonomi. Negara‑negara importir, terutama di Asia dan Afrika, menghadapi dilema antara mencari alternatif pasokan yang lebih mahal atau menanggung beban inflasi yang tinggi. Di sisi lain, produsen energi di Timur Tengah menikmati peluang meningkatkan pendapatan melalui tarif transit dan penjualan spot, meski harus menyeimbangkan dengan risiko reputasi internasional.
Bank sentral di wilayah Eropa dan Amerika Utara mulai menyesuaikan kebijakan moneter untuk mengantisipasi tekanan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi. Beberapa negara mengumumkan subsidi BBM sementara, namun kebijakan ini menambah beban fiskal yang sudah tertekan.
Langkah Selanjutnya
Iran mengajak komunitas internasional untuk beraksi secara kolektif, menolak “penciptaan krisis energi yang disengaja” oleh AS‑Israel. Tehran menegaskan kesiapan untuk membuka kembali Selat Hormuz jika ada jaminan keamanan dan kepastian politik yang memadai. Sementara itu, Amerika Serikat dan sekutunya menolak tuduhan tersebut, menyatakan bahwa penutupan selat merupakan konsekuensi langsung dari aksi militer Iran yang dianggap mengancam keamanan maritim internasional.
Ketegangan ini menunjukkan betapa rapuhnya sistem energi global ketika dipengaruhi oleh dinamika geopolitik. Keseimbangan antara keamanan energi, kepentingan politik, dan stabilitas ekonomi menjadi tantangan utama bagi para pembuat kebijakan di seluruh dunia.
Jika tidak ada penyelesaian diplomatik yang cepat, dunia dapat menghadapi gelombang krisis energi berulang, yang pada gilirannya akan memperdalam ketidakstabilan ekonomi dan meningkatkan risiko sosial di tingkat global.











