Keuangan.id – 20 April 2026 | Harga elpiji 12 kg mengalami lonjakan signifikan pada minggu pertama April 2026, memicu kegelisahan di kalangan rumah tangga kelas menengah. Kenaikan tersebut mencapai sekitar Rp 36.000 per tabung, dari Rp 192.000 menjadi kisaran Rp 228.000‑229.500. Di beberapa minimarket, harga bahkan melambung hingga Rp 247.000.
Reaksi Konsumen di Jakarta Selatan
Warga Jakarta Selatan mulai merasakan beban tambahan pada anggaran dapur. Fia, 34 tahun, mengaku terkejut dengan selisih harga yang begitu besar. “Kalau saya masih mampu beli, tapi naiknya sebanyak ini berat. Saya pertimbangkan beli tabung 3 kg yang subsidi,” ujarnya di agen Cilandak. Yadhi, 41 tahun, menyatakan hal serupa, menilai bahwa perbedaan harga membuatnya berpikir ulang untuk tetap menggunakan elpiji nonsubsidi.
Para agen juga melaporkan peningkatan keluhan. Suryanto, pemilik agen di Cilandak, mencatat bahwa dalam dua hari terakhir hanya dua pelanggan yang datang membeli tabung 12 kg secara langsung, meski permintaan melalui layanan daring tetap ada. “Banyak yang mengeluh, tapi kebutuhan tetap harus dipenuhi,” katanya.
Pernyataan Menteri Energi Bahlil
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Jafar Mahmud, menanggapi situasi dengan menekankan bahwa mereka yang mampu harus berkontribusi pada stabilitas energi nasional. “Kenaikan harga elpiji 12 kg mencerminkan tekanan pasar global, terutama pasokan minyak dan gas. Kami berharap konsumen yang mampu tetap mendukung dengan membeli produk nonsubsidi,” ujarnya dalam konferensi pers.
Dia menambahkan bahwa pemerintah tengah mengupayakan diversifikasi pasokan, termasuk mencari alternatif impor dari Rusia, sambil memastikan ketersediaan subsidi untuk golongan kurang mampu. Namun, Bahlil menegaskan bahwa tidak ada rencana penurunan harga elpiji subsidi dalam waktu dekat.
Dampak pada Pengeluaran Rumah Tangga
Kenaikan harga elpiji 12 kg menambah beban pada pengeluaran bulanan keluarga. Menurut data lapangan, satu tabung Bright Gas 12 kg biasanya habis dalam sebulan bagi keluarga beranggotakan empat orang. Dengan tambahan Rp 30.000‑Rp 36.000, alokasi dana untuk kebutuhan lain seperti makanan, pendidikan, atau transportasi harus dikurangi.
Beberapa konsumen mulai beralih ke tabung subsidi 3 kg meski secara regulasi barang tersebut diperuntukkan bagi rumah tangga berpendapatan sangat rendah. Praktik ini menimbulkan perdebatan etika, namun tekanan ekonomi membuat pilihan tersebut menjadi pertimbangan nyata.
Prospek Kedepan
Para analis memperkirakan bahwa harga elpiji 12 kg dapat tetap berada pada level tinggi selama pasokan global belum stabil. Upaya pemerintah untuk menambah impor atau meningkatkan produksi domestik masih dalam tahap perundingan. Sementara itu, konsumen diharapkan menyesuaikan pola konsumsi, baik dengan mengoptimalkan penggunaan elpiji maupun beralih ke alternatif energi lain, seperti LPG 3 kg atau kompor listrik.
Secara keseluruhan, dinamika harga elpiji 12 kg mencerminkan tantangan ekonomi makro yang dirasakan langsung oleh rumah tangga menengah. Keterlibatan semua pihak—pemerintah, produsen, dan konsumen—menjadi kunci untuk mengelola beban ini secara berkelanjutan.











