Keuangan.id – 09 April 2026 | Jakarta – Di tengah ketegangan geopolitik yang melanda dunia, termasuk konflik di Timur Tengah, ketidakpastian pasar energi, serta dampak iklim ekstrem seperti El Nino, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Keuangan Purbaya masih menegaskan optimisme bahwa perekonomian nasional tetap berada pada jalur stabil dan siap untuk ekspansi.
Langkah Pemerintah Menghadapi Geopolitik Global
Presiden Prabowo Subianto telah menekankan pentingnya ketahanan ekonomi dalam rangka melindungi rakyat dari fluktuasi eksternal. Menurut pernyataan yang dipublikasikan di akun resmi Sekretaris Negara, Presiden menegaskan bahwa meskipun banyak negara mengalami kesulitan, Indonesia harus tetap aman dalam urusan pangan dan harga energi.
Dalam rapat bersama Komisi IV DPR RI, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menguraikan strategi nasional untuk mengantisipasi dinamika geopolitik. Bulog meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri, Pertanian, Perdagangan, serta TNI‑Polri untuk memastikan pasokan pangan tidak terganggu.
- Penguatan cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai 4,59 juta ton.
- Pembentukan command center real‑time untuk memantau situasi global dan potensi dampak El Nino.
- Kolaborasi dengan BUMN pangan seperti ID FOOD dan Berdikari serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
- Monitoring harga di pasar tradisional tiga kali seminggu bersama Bapanas dan Satgas Pangan Polri.
Purbaya Optimistis: Kunci Kebijakan Fiskal dan Moneter
Menteri Keuangan Purbaya menegaskan bahwa kebijakan fiskal tetap terfokus pada pengendalian defisit anggaran serta penyesuaian belanja publik yang mendukung infrastruktur produktif. Sementara itu, Bank Indonesia menjaga suku bunga pada level yang kompetitif untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
“Stabilitas harga pangan dan energi menjadi prioritas utama,” kata Purbaya dalam sebuah konferensi pers. “Jika inflasi dapat dikelola, daya beli masyarakat akan terjaga, dan investasi domestik serta asing dapat terus mengalir.”
Dampak Geopolitik Terhadap Sektor‑Sektor Kunci
Konflik di Timur Tengah berpotensi menaikkan harga minyak mentah, yang pada gilirannya dapat memengaruhi biaya transportasi dan produksi barang. Namun, Indonesia telah memperkuat cadangan energi strategis dan memperluas kerjasama dengan negara‑negara produsen energi lain untuk mengurangi ketergantungan.
Di sektor pertanian, ancaman El Nino diperkirakan menurunkan hasil panen padi hingga 5 % pada musim tanam berikutnya. Bulog, bersama BMKG, telah menyusun skenario mitigasi termasuk peningkatan irigasi dan penyediaan bibit tahan kekeringan.
Prospek Pertumbuhan Ekonomi 2026‑2027
Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 % pada tahun 2026, mengungguli banyak negara tetangga. Faktor‑faktor pendukung meliputi:
- Peningkatan ekspor komoditas non‑migas, terutama produk pertanian dan manufaktur.
- Penguatan sektor pariwisata domestik setelah pemulihan pasca‑pandemi.
- Investasi infrastruktur berkelanjutan, termasuk proyek energi terbarukan.
- Stabilitas kebijakan moneter yang menahan tekanan inflasi.
Selain itu, kebijakan insentif pajak bagi perusahaan yang berinvestasi dalam teknologi hijau diharapkan menarik aliran modal asing yang sensitif terhadap isu iklim.
Walaupun dunia terus bergejolak akibat perang, fluktuasi energi, dan perubahan iklim, pemerintah Indonesia melalui peran aktif Purbaya, Bulog, dan lembaga‑lembaga terkait menunjukkan kesiapan yang kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi. Kombinasi kebijakan fiskal yang prudensial, penguatan cadangan pangan, serta diversifikasi energi menjadi landasan bagi Indonesia untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga memperluas pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.











