Keuangan.id – 17 April 2026 | Jakarta, 17 April 2026 – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo berada di sorotan publik setelah serangkaian pernyataan dan tindakan yang menimbulkan pertanyaan tentang kinerja kementeriannya. Dari kritik tajam atas progres pembangunan Sekolah Rakyat, kesiapan sarana mudik Lebaran 2025, hingga dugaan korupsi yang memicu penggeledahan oleh Kejaksaan Tinggi DKI, semua menjadi satu narasi kompleks yang menguji kepemimpinan Hanggodo.
Progres Sekolah Rakyat Masih Tertinggal
Dalam kunjungan ke proyek Sekolah Rakyat tahap II di Surabaya, Menteri Dody menilai bahwa pembangunan masih “sangat‑sangat jauh tertinggal”. Ia menyinggung adanya upaya menutup‑tutupi fakta progres yang rendah, menambah tekanan pada timnya untuk mempercepat pencapaian target 100 sekolah rakyat per tahun. Menurutnya, program ini merupakan wujud “kenegarawanan” Presiden Prabowo Subianto dan diharapkan dapat melahirkan generasi emas pada tahun 2045.
Kesiapan Sarana Mudik Lebaran 2025
Di sisi lain, Hanggodo memastikan bahwa sarana transportasi untuk mudik Lebaran 2025 sudah siap. Data AirNav menunjukkan bahwa pada 25 Maret lalu tercatat 1.057 pergerakan pesawat di Bandara Soekarno‑Hatta, dengan proyeksi kenaikan hingga 1.132 pergerakan pada akhir bulan. Angka ini hanya sedikit di bawah puncak tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 1.100 pergerakan. Menurut Direktur Utama InJourney Airports, Faik Fahmi, kebijakan “Work From Anywhere” (WFA) dan koordinasi dengan BMKG membantu mengurangi dampak cuaca ekstrem dan memastikan kelancaran penerbangan domestik maupun internasional.
Stres dan Sakit Perut Saat Kementerian Digeledah
Pada 9 April 2026, Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta melakukan penggeledahan di sejumlah ruangan Kementerian PU terkait dugaan tindak pidana korupsi periode 2023‑2024. Dody mengaku tidak diberi pemberitahuan sebelumnya, sehingga mengalami stres hingga sakit perut selama proses pemeriksaan. Ia menegaskan belum menerima Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dan berjanji akan terus melakukan “bersih‑bersih” internal sesuai arahan Presiden.
Percepatan Pemulihan di Aceh
Setelah hujan lebat menyebabkan banjir dan lumpur di Aceh, Hanggodo mempercepat pembangunan sabo dam dan pembersihan lumpur melalui skema desain‑and‑build. Fokus utama diarahkan pada wilayah Tamiang, Pidie Jaya, serta pembangunan hunian sementara bagi 38.169 rumah rusak berat, dengan 28.236 unit telah selesai dibangun. Program padat karya melibatkan masyarakat setempat, sementara TNI diberikan dukungan untuk memastikan mobilitas penduduk tidak terganggu.
Kontroversi Pernyataan Loyalitas ASN
Pernyataan keras Menteri yang menuntut pegawai ASN yang tidak “setia” pada Presiden Prabowo untuk mengundurkan diri memicu perdebatan luas. Saat kunjungan kerja di Sekolah Rakyat Nganjuk, ia mengungkapkan rasa frustrasinya dengan kata‑kata “Kalau kemarin saya masih umur 20 tahun, saya tonjok tuh”. Kritik tersebut menambah citra komunikatif yang kontroversial dan menimbulkan pertanyaan mengenai ruang berpikir dalam birokrasi.
Audit dan Angka Kerugian Negara
Audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) awalnya mencatat potensi kerugian hingga hampir Rp3 triliun dalam proyek‑proyek PU, kemudian turun menjadi sekitar Rp1 triliun, dan selanjutnya menjadi Rp600 miliar setelah proses verifikasi lanjutan. Perubahan angka ini menandakan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan belum menghasilkan keputusan final.
Secara keseluruhan, Dody Hanggodo berada di tengah tekanan multidimensi: mempercepat infrastruktur pendidikan, menjamin kelancaran mudik, menanggapi penyelidikan korupsi, serta mengelola respons publik terhadap gaya kepemimpinan yang keras. Keberhasilan atau kegagalan dalam menyatukan semua agenda ini akan menjadi tolok ukur penting bagi pemerintah dalam menegakkan komitmen pembangunan dan akuntabilitas.
Dengan agenda yang begitu padat, publik menanti langkah konkret selanjutnya. Apakah Menteri akan mampu menyalurkan janji‑janji “sembuh” menjadi realitas di lapangan, atau justru akan semakin terperangkap dalam dinamika politik dan hukum yang membayangi kinerjanya? Hanya waktu yang dapat menjawab.











