Keuangan.id – 08 April 2026 | Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa BUMN pangan ini tengah menjalankan serangkaian langkah strategis untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan nasional. Rangkaian kebijakan tersebut meliputi penguatan strategi menghadapi dinamika geopolitik global, antisipasi fenomena El Nino, serta penanggulangan kelangkaan biji plastik yang berpotensi mengganggu distribusi beras.
Strategi Menghadapi Geopolitik dan El Nino
Rizal menyampaikan bahwa Bulog telah membentuk command center khusus yang memantau situasi dunia secara real‑time, termasuk potensi dampak El Nino ekstrem terhadap produksi pertanian. Kerjasama lintas kementerian—Kementerian Dalam Negeri, Pertanian, Perdagangan—serta lembaga keamanan TNI‑Polri dijadikan tulang punggung koordinasi. Selain itu, sinergi dengan BUMN pangan lain seperti ID FOOD dan Berdikari, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat kemampuan prediksi cuaca dan mitigasi risiko kekeringan.
Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog tercatat berada pada posisi aman dengan volume 4,59 juta ton. Angka ini dipertahankan melalui pembelian gabah domestik, penyesuaian kontrak impor, serta rotasi stok yang terkontrol. Bulog juga melakukan “pelototi” pasar tradisional tiga kali seminggu bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Satgas Pangan Polri untuk memastikan harga eceran tertinggi (HET) dan harga acuan penjualan (HAP) tetap sesuai standar.
Kelangkaan Biji Plastik dan Upaya Penanggulangannya
Isu kelangkaan biji plastik, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, berpotensi menghambat produksi kemasan beras. Rizal menegaskan Bulog masih memiliki persediaan plastik yang cukup untuk mendukung operasi distribusi. Meskipun bahan baku plastik berada di bawah wewenang Kementerian Perindustrian, Bulog telah mengamankan kontrak pengadaan sejak awal tahun 2026, sehingga program beras SPHP (Stabilisasi Harga Pangan) tidak terganggu.
Untuk program beras dalam kemasan dua kilogram, Bulok memastikan pasokan tetap berjalan sesuai jadwal. “Kami sudah kontrak sejak awal tahun, jadi tidak ada penundaan produksi,” ujar Rizal saat ditemui usai rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI.
Distribusi Bantuan Beras‑Minyak Goreng
Dalam rangka menjaga daya beli masyarakat, Bulog menyalurkan bantuan pangan kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Setiap keluarga menerima paket bantuan berisi 20 kilogram beras dan empat liter minyak goreng merek MinyaKita. Hingga akhir April 2026, Bulog telah menyalurkan sekitar 32,145,520 kilogram beras dan 6,438,104 liter minyak goreng. Namun, capaian tersebut baru menyentuh 4,83 % dari total target nasional, karena proses administrasi yang baru selesai pada akhir Maret 2026 serta bertepatan dengan momentum Ramadhan dan Idul Fitri.
Rizal menambahkan bahwa setelah momentum Hari Besar Keagamaan Nasional selesai, Bulog akan mempercepat penyaluran bantuan untuk memenuhi target akhir tahun. Koordinasi dengan Menteri Pertanian, Kepala Badan Pangan Nasional, dan Menteri Koordinator Bidang Pangan menjadi kunci percepatan distribusi.
Data Kunci Bulog 2026
| Aspek | Nilai |
|---|---|
| Stok Cadangan Beras (CBP) | 4,59 juta ton |
| Keluarga Penerima Manfaat (KPM) | 33,2 juta keluarga |
| Berat Beras yang Disalurkan | 32,145,520 kg |
| Minyak Goreng yang Disalurkan | 6,438,104 L |
| Persentase Pencapaian Target 2026 | 4,83 % |
Selain angka-angka di atas, Bulog juga meningkatkan efisiensi internal melalui kebijakan kerja fleksibel bagi staf, sambil memastikan tim lapangan tetap aktif dalam penjemputan gabah. “Tim jemput gabah harus berada di lapangan, jika tidak tidak ada hasil,” tegas Rizal.
Dengan rangkaian langkah tersebut, Bulog berharap dapat menjaga stabilitas harga pangan, mengurangi risiko kekurangan pasokan, dan memastikan masyarakat Indonesia tetap memiliki akses pada pangan yang aman dan terjangkau.
Secara keseluruhan, kebijakan yang dijalankan oleh Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan komitmen pemerintah untuk menjadikan ketahanan pangan sebagai prioritas utama di tengah tantangan global yang semakin kompleks.











