Keuangan.id – 20 April 2026 | Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengingatkan bahwa stok plastik nasional diproyeksikan hanya cukup hingga bulan Mei 2026. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam sebuah pertemuan bersama pelaku industri hulu petrokimia, industri antara, industri hilir, serta sektor daur ulang plastik.
Latar Belakang Geopolitik dan Dampaknya
Gejolak geopolitik di kawasan Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mengancam rantai pasok bahan baku petrokimia. Konflik di wilayah tersebut dapat memperpanjang waktu pengiriman bahan baku impor dari rata‑rata 15 hari menjadi hingga 50 hari. Kenaikan biaya logistik, freight pelabuhan, serta penerapan surcharge premium turut menambah beban biaya produksi industri plastik dalam negeri.
Akibatnya, struktur harga produk plastik mengalami distorsi. Beberapa sektor, termasuk industri pangan, merasakan tekanan harga yang dapat berimbas pada kenaikan harga barang konsumen.
Upaya Kemenperin dan Komitmen Industri
Dalam rangka mengantisipasi situasi ini, Kemenperin telah menggelar dialog lintas rantai pasok. Hasil pertemuan menunjukkan optimisme industri bahwa stok plastik tetap dapat terjaga asalkan pemerintah terus memantau perkembangan global secara cermat. “Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah,” ujar Agus, sambil menekankan pentingnya pengawasan terus‑menerus.
Industri yang hadir juga berkomitmen menjaga kesinambungan suplai khusus bagi pelaku usaha kecil, agar produk mereka tetap kompetitif. Selain itu, mereka mengusulkan perlindungan pasar domestik dari masuknya produk impor yang berpotensi menurunkan harga secara tidak sehat.
Strategi Diversifikasi Bahan Baku
Untuk mengurangi ketergantungan pada impor, Kemenperin meninjau alternatif bahan baku substitusi naphtha, termasuk penggunaan Crude Palm Oil (CPO) sebagai sumber energi dan bahan baku petrokimia. Meskipun harga CPO masih relatif tinggi, pemerintah menilai potensi diversifikasi ini layak untuk dieksplorasi lebih lanjut.
Upaya diversifikasi juga mencakup peningkatan kapasitas produksi petrokimia dalam negeri, sehingga Indonesia dapat menjadi pemasok bahan baku yang lebih mandiri dan tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi geopolitik.
Proyeksi Harga Plastik dan Kebijakan Pemerintah
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan penurunan harga plastik pada bulan April 2026. Menteri Perdagangan Budi Santoso berharap penurunan tersebut dapat mencegah dampak lanjutan pada sektor-sektor lain, terutama pangan.
Selain langkah penurunan harga, pemerintah berencana memperkuat kebijakan perlindungan pasar domestik dan menarik investasi baru ke subsektor petrokimia. Investor diharapkan melihat Indonesia sebagai tempat yang menarik untuk penanaman modal, terutama bila pasar domestik tetap terlindungi dari gelombang produk impor.
Secara keseluruhan, situasi geopolitik saat ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian industri petrokimia. Dengan kombinasi monitoring ketat, kolaborasi industri, serta diversifikasi bahan baku, diharapkan stok plastik nasional dapat terjaga hingga akhir tahun dan menghindari krisis pasokan yang dapat mengganggu perekonomian.
Kesimpulannya, meskipun proyeksi awal menunjukkan stok plastik hanya cukup hingga Mei, langkah-langkah mitigasi yang dijalankan pemerintah dan komitmen industri memberikan harapan bahwa pasokan akan tetap stabil, harga dapat ditekan, dan ketergantungan pada impor dapat berkurang.











