Keuangan.id – 06 April 2026 | PT Allo Bank Indonesia Tbk mengeluarkan peringatan terkait potensi peningkatan kredit bermasalah (non‑performing loan/NPL) setelah periode Lebaran 2026. Menurut pengamatan internal, pola pembayaran nasabah cenderung berubah menjelang dan sesudah hari raya, yang dapat memicu peningkatan kredit macet di sektor ritel dan mikro.
Beberapa faktor yang menjadi penyebab utama meliputi:
- Penurunan pendapatan rumah tangga selama libur panjang karena penangguhan aktivitas ekonomi.
- Peningkatan beban pengeluaran selama perayaan, terutama untuk kebutuhan konsumsi dan hadiah.
- Kendala likuiditas pada usaha mikro yang masih bergantung pada arus kas harian.
Data historis menunjukkan bahwa rata‑rata NPL di Indonesia cenderung naik sekitar 0,3‑0,5 poin persentase pada kuartal pertama setelah Lebaran. Meskipun Allo Bank masih berada di bawah batas toleransi regulator, manajemen berencana memperketat pemantauan portofolio dengan langkah‑langkah berikut:
- Memperkuat sistem monitoring kredit berbasis analitik real‑time.
- Meningkatkan dialog dengan debitur melalui layanan call‑center dan kunjungan lapangan.
- Menawarkan restrukturisasi pembayaran bagi nasabah yang mengalami kesulitan sementara.
Bank juga menegaskan komitmennya untuk menjaga rasio NPL di bawah 2,5 % sebagaimana ditetapkan OJK, serta berkoordinasi dengan otoritas keuangan untuk mengantisipasi dampak makroekonomi pasca Lebaran.
Pengamat memperkirakan bahwa jika pertumbuhan ekonomi tetap moderat dan inflasi tidak melonjak, tekanan pada NPL dapat ditekan. Namun, ketidakpastian global, seperti volatilitas pasar energi dan nilai tukar, tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai.











