Keuangan.id – 12 Maret 2026 | Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menghentikan operasi pasar uang (open market operations) selama periode Lebaran, sebuah keputusan yang menimbulkan kekhawatiran akan potensi gejolak nilai tukar rupiah. Meskipun langkah ini dimaksudkan untuk memberi ruang pada pergerakan pasar selama libur panjang, para analis menilai bahwa penurunan likuiditas dapat memicu tekanan spekulatif, terutama mengingat ketidakpastian global dan domestik yang masih tinggi.
Latar Belakang Kebijakan Moneter BI
Operasi moneter BI, termasuk reverse repo dan penjualan surat berharga, berfungsi sebagai instrumen utama untuk mengatur likuiditas bank dan menjaga stabilitas nilai tukar. Selama bulan-bulan sebelumnya, BI aktif menurunkan suku bunga acuan dan menyediakan likuiditas tambahan guna menahan dampak inflasi dan fluktuasi nilai tukar. Namun, menjelang Lebaran, BI biasanya menurunkan intensitas operasi untuk menghindari over‑liquidity yang dapat memperlemah rupiah.
Potensi Risiko Gejolak Nilai Tukar
Berhentinya operasi moneter selama libur Lebaran berpotensi menimbulkan tiga risiko utama:
- Kekurangan likuiditas: Tanpa intervensi rutin, bank dapat mengalami penurunan dana jangka pendek, memaksa mereka mencari sumber dana eksternal yang lebih mahal.
- Spekulasi pasar: Pedagang valas dapat memanfaatkan volatilitas yang meningkat untuk melakukan aksi jual beli besar‑besar, memperlebar selisih bid‑ask.
- Pengaruh eksternal: Dinamika dolar AS, kebijakan Federal Reserve, serta perkembangan geopolitik dapat memperkuat aliran modal keluar, menambah tekanan pada rupiah.
Faktor-Faktor Penggerak Gejolak
Beberapa faktor internal dan eksternal turut memperkuat risiko tersebut:
- Data inflasi yang masih tinggi: Inflasi konsumen Indonesia tetap berada di atas target BI, menambah beban pada kebijakan moneter.
- Harga komoditas global: Fluktuasi harga minyak dan logam dasar berdampak pada neraca perdagangan, yang pada gilirannya memengaruhi nilai tukar.
- Arus modal spekulatif: Investor asing yang memantau kebijakan BI dapat mengalihkan dana secara cepat bila melihat penurunan likuiditas.
- Sentimen pasar domestik: Pada periode Lebaran, aktivitas perdagangan biasanya melambat, sehingga volume pasar menurun dan volatilitas cenderung meningkat.
Dampak Bagi Pelaku Ekonomi
Gejolak rupiah dapat menimbulkan konsekuensi luas bagi ekonomi nyata. Importir barang konsumen berisiko menghadapi biaya beli yang lebih tinggi, sementara eksportir dapat meraih keuntungan dari nilai tukar yang lebih lemah. Namun, ketidakpastian nilai tukar juga dapat menunda keputusan investasi, khususnya dalam sektor infrastruktur dan manufaktur yang sangat bergantung pada pembiayaan luar negeri.
Selain itu, rumah tangga yang memiliki pinjaman dengan suku bunga mengambang dapat merasakan tekanan pada beban cicilan, mengingat kenaikan biaya pinjaman dalam mata uang asing. Sektor perbankan sendiri harus siap mengelola risiko likuiditas, termasuk menyiapkan jalur pendanaan darurat dan meningkatkan monitoring posisi mata uang asing.
Langkah Mitigasi dan Prediksi
Untuk mengurangi potensi gejolak, BI diperkirakan akan menyiapkan beberapa langkah kontinjensi, antara lain:
- Memperkuat cadangan devisa sebagai penyangga likuiditas pasar valas.
- Menggunakan instrumen swap atau forward untuk menstabilkan nilai tukar secara temporer.
- Memberikan arahan yang jelas kepada pasar melalui pernyataan kebijakan (statement) sebelum libur Lebaran, guna mengurangi spekulasi.
Para analis memproyeksikan bahwa jika BI berhasil mengelola likuiditas dengan efektif, fluktuasi rupiah tidak akan melebihi 3‑4 persen terhadap dolar AS selama periode libur. Namun, skenario terburuk melibatkan penurunan tajam di atas 5 persen, terutama bila terjadi kejutan eksternal seperti keputusan suku bunga mendadak oleh Federal Reserve.
Secara keseluruhan, meskipun penghentian operasi moneter selama Lebaran merupakan praktik yang lazim, kondisi ekonomi global yang belum stabil menambah kompleksitas risiko. Kewaspadaan BI, koordinasi dengan otoritas fiskal, serta transparansi komunikasi kepada pelaku pasar menjadi kunci untuk menjaga stabilitas rupiah.











