Peternak Ungkap Swasembada Telur, Namun Serapan di MBG Rendah

Peternak Ungkap Swasembada Telur, Namun Serapan di MBG Rendah
Peternak Ungkap Swasembada Telur, Namun Serapan di MBG Rendah

Keuangan.id – 17 Mei 2026 | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, tidak hanya diproyeksikan menjadi mesin besar pemenuhan gizi nasional, tetapi juga diharapkan menjadi penyangga baru ekonomi peternak rakyat.

Pemerintah berusaha memastikan bahwa miliaran butir telur yang kelak masuk ke piring anak-anak sekolah Indonesia, tidak berasal dari impor atau rantai pasok besar yang terpusat, melainkan dari kandang-kandang lokal di sekitar daerah penerima manfaat.

Telur Lokal di Piring Anak

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis sejak awal dirancang tidak hanya untuk memperbaiki kualitas gizi masyarakat, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi di tingkat daerah.

BGN meminta seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengutamakan bahan pangan hasil produksi lokal, termasuk untuk kebutuhan telur yang menjadi salah satu sumber protein utama dalam menu MBG.

Pernyataan tersebut menegaskan arah besar kebijakan pemerintah: rantai pasok pangan MBG tidak boleh terpusat hanya pada pemasok besar nasional.

Potensi Produksi Telur

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi telur ayam ras nasional pada 2024 mencapai sekitar 6,5 juta ton.

Sentra terbesar produksi telur berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra Utara, dan Sulawesi Selatan.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan konsumsi telur masyarakat Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2023, konsumsi telur nasional diperkirakan mencapai lebih dari 7 kilogram per kapita per tahun.

Angka tersebut masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara Asia lainnya, sehingga pemerintah melihat ruang peningkatan konsumsi protein hewani masih sangat besar.

Dalam konteks telur, kebutuhan nasional berpotensi melonjak signifikan.

Dengan cakupan penerima manfaat yang diproyeksikan mencapai puluhan juta orang, MBG akan membutuhkan pasokan pangan dalam jumlah sangat besar setiap hari.

Peternak lokal diharapkan dapat memenuhi kebutuhan telur tersebut, sehingga program MBG dapat menjadi penggerak ekonomi desa sekaligus solusi gizi nasional.

MBG memang memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan mendorong pemberdayaan ekonomi di tingkat daerah.

Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, seperti meningkatkan produksi telur, memastikan stabilitas harga, dan meningkatkan kualitas telur yang dihasilkan.

Jika MBG dapat dijalankan dengan efektif, maka program ini dapat menjadi contoh baik bagi program-program lainnya dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan mendorong pemberdayaan ekonomi di tingkat daerah.

Peternak lokal harus dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan produksi telur dan memenuhi kebutuhan nasional.

Dengan demikian, MBG dapat menjadi program yang berhasil dan berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan mendorong pemberdayaan ekonomi di tingkat daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *