Keuangan.id – 15 Maret 2026 | Setelah kematian mendadak Ayahanda, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara yang menewaskan sejumlah anggota keluarga kerajaan, putranya Mojtaba Khamenei secara resmi mengangkat diri sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada 12 Maret 2026. Dalam pidato perdana yang disiarkan secara nasional, ia menyampaikan tekad keras untuk melanjutkan balas dendam atas kematian para martir serta menegaskan komitmen menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia.
Latar Belakang Konflik
Serangan udara yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei serta istri, saudara perempuan, dan anggota keluarga dekat lainnya terjadi dalam konteks eskalasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik ini, yang dipicu oleh serangan balasan Iran atas operasi militer AS di wilayah tersebut, telah menjerumuskan kawasan Timur Tengah ke dalam ketegangan yang belum pernah terjadi selama dekade terakhir.
Isi Pidato Perdana Mojtava Khamenee
Pidato yang dibacakan secara tertulis itu menyoroti beberapa poin utama:
- Balas Dendam Terhadap Martir: Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur dalam upaya membalas darah para martir, termasuk ayahnya yang dianggap sebagai simbol perjuangan revolusi Islam.
- Penutupan Selat Hormuz: Ia bersumpah untuk melanjutkan penutupan Selat Hormuz, yang dianggapnya sebagai alat tekanan ekonomi terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Penutupan ini, menurutnya, akan mengguncang pasokan minyak dunia dan menimbulkan ketidakstabilan regional.
- Target Militer, Bukan Sipil: Khamenei menekankan bahwa serangan Iran akan difokuskan pada instalasi militer, terutama pangkalan AS yang berada di sekitar Selat, sambil menghindari korban sipil.
- Mobilisasi Publik: Ia mengajak rakyat Iran untuk tetap tampil di jalanan, khususnya pada peringatan Hari Quds, sebagai simbol ketahanan nasional.
- Jaminan Kesehatan bagi Korban: Khamenei menjanjikan perawatan medis gratis dan tunjangan tambahan bagi warga yang terluka atau kehilangan mata pencaharian akibat konflik.
Reaksi Domestik
Pejabat luar negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan tidak ada masalah serius terkait kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei meskipun sebelumnya terdapat laporan tentang luka serius pada kaki sang pemimpin. Araghchi menambahkan bahwa Khamenei telah mengirimkan pesan resmi kemarin dan siap menjalankan tugasnya.
Di dalam negeri, sebagian besar media resmi menyoroti keberanian pemimpin baru dalam menghadapi tantangan, sementara oposisi menilai sikap keras tersebut dapat memperburuk penderitaan ekonomi rakyat, mengingat harga bahan bakar dan kebutuhan pokok telah melambung sejak konflik dimulai.
Respons Internasional
Pemerintah Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya mengutuk ancaman penutupan Selat Hormuz sebagai tindakan yang dapat menimbulkan krisis energi global. Pejabat militer AS menegaskan kesiapan untuk melindungi kepentingan strategis di wilayah tersebut, sementara Israel menyatakan kesiapan untuk melakukan operasi balasan bila Iran mengintensifkan aksi militernya.
Di sisi lain, beberapa negara non‑blok, termasuk Rusia dan China, menyerukan dialog dan menolak eskalasi militer lebih lanjut. Kedua negara tersebut menekankan pentingnya stabilitas jalur perdagangan laut untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dunia.
Implikasi Ekonomi Global
Selat Hormuz menyumbang sekitar tiga persen pasokan minyak dunia. Penutupan total atau parsial dapat menaikkan harga minyak mentah secara signifikan, berpotensi memicu inflasi di negara‑negara importir energi. Analis pasar memperkirakan bahwa volatilitas harga minyak dapat mencapai level tertinggi sejak krisis energi 1970‑an jika Iran melanjutkan ancaman tersebut.
Namun, para ekonom juga mencatat bahwa pasar energi telah mengembangkan cadangan strategis dan diversifikasi sumber, sehingga dampak jangka pendek mungkin dapat dikelola, meski tetap menimbulkan ketidakpastian yang signifikan bagi investor global.
Secara keseluruhan, pidato perdana Mojtaba Khamenei menandai fase baru dalam politik luar negeri Iran yang lebih konfrontatif. Dengan menegaskan penutupan Selat Hormuz, ia tidak hanya mengirim sinyal kepada Amerika Serikat dan Israel, tetapi juga kepada seluruh komunitas internasional bahwa Iran bersedia menanggung konsekuensi ekonomi demi tujuan geopolitik yang dianggapnya vital. Masa depan kawasan dan pasar energi global kini berada di persimpangan, menunggu respons konkret dari semua pihak terkait.











