Keuangan.id – 21 April 2026 | Nyak Sandang, sosok kakek yang menjadi penyumbang utama pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, Seulawah RI-001, resmi meninggal dunia pada Selasa, 7 April 2026 di kediamannya, Aceh Jaya. Kepergiannya menyisakan duka mendalam bagi keluarga, tokoh masyarakat, dan seluruh warga yang mengenang peran pentingnya dalam sejarah penerbangan nasional.
Profil Nyak Sandang dan Kontribusi Historis
Born di sebuah desa kecil di Aceh Jaya pada pertengahan abad ke-20, Nyak Sandang menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai petani dan pedagang tradisional. Pada awal 1960-an, ketika pemerintah Republik Indonesia berupaya memperkuat angkatan udara, ia menjadi salah satu donor pribadi terbesar yang menyediakan dana untuk pengadaan pesawat pertama, Seulawah RI-001. Dana yang ia sumbangkan diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah pada masa itu, sebuah nilai yang sangat signifikan mengingat kondisi ekonomi pasca‑independensi.
Seulawah RI-001 kemudian menjadi simbol kebanggaan bangsa, menandai langkah awal kemandirian militer di udara. Meskipun tidak lagi beroperasi, pesawat tersebut tetap dikenang dalam museum penerbangan dan menjadi inspirasi generasi penerbang muda di seluruh Indonesia.
Kondisi Terkini Aceh Jaya
Kepergian Nyak Sandang terjadi di tengah serangkaian peristiwa alam dan sosial yang menguji ketahanan wilayah. Pada 25 Februari 2026, gempa magnitude 4,2 mengguncang Aceh Jaya, menimbulkan kerusakan pada beberapa rumah warga. Sebelumnya, pada 31 Desember 2025, gempa magnitude 4,4 berpusat di lepas pantai Calang, menambah beban penanggulangan bencana.
Selain gempa, wilayah ini juga mengalami banjir luapan pada 20 Oktober 2025 yang melanda lima kabupaten, menimpa lebih dari 5.400 orang. Hujan lebat selama dua hari menyebabkan aliran sungai meluap, memaksa ribuan warga mengungsi ke tempat penampungan darurat.
Di bidang sosial, Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya melarang penyelenggaraan lomba panjat pinang menjelang HUT ke‑80 Republik Indonesia pada Agustus 2025. Keputusan ini diambil demi menghindari potensi kecelakaan, sambil mendorong kegiatan edukatif dan kreatif yang lebih aman.
Kasus korupsi juga mewarnai dinamika politik daerah. Pada Agustus 2025, Kejaksaan Tinggi Aceh menyita uang sebesar Rp 17 miliar yang diduga terkait kasus korupsi melibatkan Sekretaris Daerah dan anggota DPR Kabupaten Aceh Jaya. Kasus ini menambah tekanan pada aparat pemerintah setempat untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.
Pada 4 Oktober 2025, Wakil Gubernur Aceh, Dek Fadh, secara spontan menemui sopir truk berpelat luar Aceh di Puncak Geureute, memberikan uang makan, dan menanyakan kondisi mereka. Tindakan ini mencerminkan upaya pemerintah provinsi untuk menunjukkan kepedulian terhadap pekerja transportasi yang sering berada di jalur rawan.
Reaksi Masyarakat dan Pemerintah
- Warga Aceh Jaya mengadakan doa bersama di rumah duka Nyak Sandang, menandai rasa hormat terhadap jasa-jasanya.
- Pejabat daerah menyampaikan penghargaan khusus kepada keluarga almarhum, sekaligus menegaskan komitmen melanjutkan program pembangunan infrastruktur penerbangan di Aceh.
- Organisasi kemanusiaan setempat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana, mengingat frekuensi gempa dan banjir yang meningkat.
Warisan dan Tantangan ke Depan
Warisan Nyak Sandang tidak hanya berupa sumbangan material, melainkan semangat patriotisme yang menginspirasi generasi muda Aceh untuk berkontribusi pada pembangunan nasional. Dengan latar belakang bencana alam yang sering melanda, kebutuhan akan infrastruktur yang tangguh menjadi prioritas utama. Pemerintah provinsi dan pusat diharapkan memperkuat jaringan transportasi, termasuk bandara regional, guna memastikan mobilitas yang aman dan cepat dalam situasi darurat.
Sementara itu, upaya pemberantasan korupsi harus terus digalakkan agar dana publik dapat dialokasikan secara efektif untuk rehabilitasi pasca‑bencana dan pengembangan ekonomi lokal. Pengalaman Nyak Sandang sebagai donor yang tulus menjadi contoh nyata bahwa kontribusi individu dapat menghasilkan dampak besar bagi negara.
Dengan mengingat jasa-jasanya, Aceh Jaya bertekad untuk menjaga semangat gotong‑royong, memperkuat ketahanan bencana, dan menegakkan tata kelola yang bersih, demi mewujudkan masa depan yang lebih aman dan sejahtera bagi seluruh warganya.
