Berita  

Nobar Kabinet Merah Putih Bawa Film Para Perasuk Menyentuh Hati, Raih Penghargaan Internasional

Nobar Kabinet Merah Putih Bawa Film Para Perasuk Menyentuh Hati, Raih Penghargaan Internasional
Nobar Kabinet Merah Putih Bawa Film Para Perasuk Menyentuh Hati, Raih Penghargaan Internasional

Keuangan.id – 30 April 2026 | Film Para Perasuk yang disutradarai oleh Wregas Bhanuteja kembali menjadi sorotan utama dunia perfilman Indonesia setelah digelar nonton bareng (nobar) eksklusif di XXI Senayan City, Jakarta, pada Selasa 28 April 2026. Mengusung genre thriller psikologis, film ini menelusuri ambisi pribadi yang menjerumuskan manusia ke dalam kegelapan batin, sekaligus menyingkap luka yang dapat menguasai jiwa.

Acara Nobar dan Kehadiran Tokoh Nasional

Acara nobar tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, menandai dukungan kuat pemerintah terhadap sinema lokal. Di antara yang hadir terdapat Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, serta Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, dan Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti juga meluangkan waktu untuk menonton bersama.

Selain itu, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Isyana Bagoes Oka, Gubernur Lemhanas Ace Hasan Syadzily, serta Kepala Badan Komunikasi Muhammad Qodari turut hadir, menegaskan bahwa film ini menjadi titik pertemuan lintas sektor dalam mengangkat nilai budaya dan sosial bangsa.

Prestasi Internasional Film

Keberhasilan Para Perasuk tidak terbatas pada panggung domestik. Film ini terpilih untuk diputar di Sundance Film Festival, Amerika Serikat, salah satu festival paling bergengsi di dunia. Penonton global memberikan standing ovation, menandakan resonansi cerita yang mendalam dan universal. Selanjutnya, film ini meraih penghargaan Best Choreography di Fantaspoa Film Festival, Brasil, menegaskan kualitas artistik serta kekuatan naratif yang dimilikinya.

Respon Kritik Sosial dan Karakter Utama

Para pemeran utama menampilkan performa yang kuat dan autentik. Maudy Ayunda, Angga Yunanda, Anggun, Chicco Kurniawan, Bryan Domani, Ganindra Bimo, dan Indra Birowo berhasil menghidupkan karakter yang kompleks dan manusiawi. Angga Yunanda, misalnya, memerankan Bayu, seorang perasuk yang sebelumnya bekerja sebagai manusia silver sebelum terpaksa mengorbankan mimpi demi menghidupi keluarga.

Kritik sosial yang terkandung dalam film menyoroti tekanan ekonomi, kegelisahan eksistensial, serta dinamika hubungan interpersonal yang sering tersembunyi di balik kehidupan sehari-hari. Kepala Badan Komunikasi, Muhammad Qodari, menilai film ini bukan sekadar horor, melainkan cerminan realitas sosial yang dibalut dengan dialog membumi.

Produksi dan Dukungan Industri

Produksi film ini digarap oleh Amalia Fitriani Rusdi dan Adi Ekatama dari Rekata Studio, dengan jajaran eksekutif produser meliputi Viola Oyong, Fry Chris Kurniawan, Bob Kamandanu, Mega Silvia, Dolly Harjono, serta Lionel. Keterlibatan tim produksi yang berpengalaman membantu memastikan kualitas teknis dan artistik yang kompetitif di kancah internasional.

Penayangan di Bioskop dan Dampak Komersial

Setelah nobar, Para Perasuk dijadwalkan tayang di berbagai jaringan bioskop besar, termasuk XXI di Surabaya. Jadwal menunjukkan pemutaran reguler 2D dengan tarif terjangkau, memudahkan penonton dari berbagai kalangan menikmati karya ini. Kehadiran film dalam jadwal harian menambah variasi genre, memperkaya pilihan penonton di tengah musim rilis film horor Indonesia yang padat pada Mei 2026.

Penayangan yang luas sekaligus dukungan dari kalangan pemerintahan menciptakan efek sinergi antara kebijakan budaya dan konsumsi publik, memperkuat ekosistem sinema nasional.

Secara keseluruhan, keberhasilan Para Perasuk mencerminkan kematangan industri film Indonesia yang mampu bersaing secara global sekaligus menjadi wadah refleksi sosial. Dukungan dari pejabat negara, apresiasi internasional, serta respons positif penonton menegaskan bahwa sinema lokal kini tidak lagi sekadar hiburan, melainkan sarana penting dalam dialog budaya dan pembangunan karakter bangsa.

Exit mobile version