Keuangan.id – 01 Mei 2026 | Fenomena ikan sapu-sapu yang menyerbu aliran sungai utama di pusat kota Jakarta kini menjadi sorotan utama media dan peneliti. Ribuan ekor ikan berwarna gelap ini melimpah dalam beberapa minggu terakhir, menimbulkan kekhawatiran bagi ekosistem sungai, kesehatan masyarakat, dan keamanan pangan.
Penyebab Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi beberapa faktor kunci yang memicu lonjakan drastis ini. Menurut ahli muda BRIN, Triyanto, keseimbangan ekosistem terganggu akibat hilangnya predator alami yang biasanya mengontrol populasi ikan kecil. Tanpa pengawas tersebut, ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) berkembang biak tanpa batas.
Selain faktor predator, Triyanto menekankan bahwa ikan sapu-sapu bukanlah spesies asli Indonesia. Diperkenalkan secara tidak sengaja dari Amerika Selatan, spesies ini tidak memiliki musuh alami di perairan lokal, sehingga dapat beradaptasi dengan cepat bahkan pada kondisi air yang tercemar.
Data Penangkapan dan Dampak Sosial
- Petugas Satpol PP di Jakarta Pusat menangkap 5 pedagang ikan sapu-sapu yang diduga menjualnya sebagai bahan siomay.
- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat penangkapan massal sebanyak 217 kilogram dalam satu operasi.
- Upaya pemusnahan massal terakhir mencatat total 10 ton ikan sapu-sapu yang dibuang ke lokasi penimbunan khusus.
Angka-angka ini menunjukkan skala serius masalah invasif yang memaksa otoritas untuk melakukan intervensi intensif.
Strategi Pengendalian Berkelanjutan Menurut UGM
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, menambahkan bahwa penangkapan satu kali tidak akan cukup. Ia menegaskan bahwa pengendalian harus berkesinambungan, misalnya dilakukan secara bulanan, untuk mencegah populasi kembali meledak.
Prof. Alim juga menyoroti pentingnya perbaikan kualitas air sungai. Ikan sapu-sapu mampu bertahan pada kondisi pencemaran tinggi, sementara ikan endemik lokal mengalami kematian massal. Tanpa perbaikan mutu air, upaya pengendalian akan selalu terhambat.
Implikasi Kesehatan dan Lingkungan
Karena ikan sapu-sapu hidup di perairan tercemar, dagingnya dapat mengakumulasi logam berat berbahaya. Prof. Alim memperingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan ini, baik secara langsung maupun sebagai pakan ternak atau pupuk, karena risiko kontaminasi dapat menyebar ke rantai makanan.
Untuk mengelola limbah biologis hasil penangkapan, para pakar merekomendasikan metode pemusnahan yang ramah lingkungan, seperti pembakaran di incinerator berlisensi atau penguburan di lokasi yang terkontrol, guna mencegah residu berbahaya kembali mencemari tanah atau air.
Langkah-Langkah Restorasi Ekosistem
Setelah kualitas air ditingkatkan, UGM menyarankan program restocking ikan endemik sebagai upaya menyeimbangkan kembali rantai makanan. Kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga riset, dan komunitas lokal diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan.
Selain itu, edukasi publik tentang bahaya spesies invasif dan pentingnya tidak melepaskan ikan hias ke sungai menjadi bagian integral dari strategi jangka panjang.
Dengan sinergi antara penangkapan berkelanjutan, perbaikan kualitas air, dan restorasi fauna asli, diharapkan ikan sapu-sapu tidak lagi menjadi ancaman dominan di sungai-sungai Jakarta.
