Keuangan.id – 13 Maret 2026 | Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan pada akhir pekan lalu, memicu pergerakan positif di pasar saham Asia, termasuk Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup sesi perdagangan dengan penguatan yang menandai peralihan sentimen pasar dari tekanan geopolitik ke optimisme pertumbuhan.
Kenaikan kembali IHSG terlihat jelas pada sesi perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, di mana indeks tersebut naik sekitar 0,4 persen, menembus level 7.360 poin. Penguatan ini selaras dengan pergerakan utama bursa global, seperti Nikkei Jepang yang kembali naik 1,02 persen dan S&P 500 yang mencatat kenaikan 0,9 persen setelah penurunan sebelumnya.
Faktor Penurunan Harga Minyak
Berita utama yang mendorong penurunan harga minyak adalah pengumuman International Energy Agency (IEA) tentang pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah. IEA berencana mengalirkan lebih dari 400 juta barel minyak ke pasar, mengurangi tekanan pada pasokan yang sebelumnya terhambat akibat konflik di Timur Tengah.
Pelepasan cadangan strategis ini diikuti oleh keputusan Amerika Serikat untuk menurunkan 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis (SPR). Kombinasi kedua langkah tersebut menurunkan harga West Texas Intermediate (WTI) dari puncak 92 dolar per barel ke sekitar 84 dolar, sementara Brent turun dari 97 dolar menjadi 88 dolar per barel.
Dampak pada Sentimen Pasar Indonesia
Penurunan harga minyak secara langsung mengurangi kekhawatiran inflasi dan defisit neraca perdagangan yang sebelumnya menggelisahkan investor. Dengan energi yang lebih murah, ekspektasi kenaikan biaya produksi di sektor manufaktur dan transportasi berkurang, meningkatkan prospek laba perusahaan.
Sektor transportasi & logistik menjadi yang terkuat, mencatat kenaikan 1,22 persen, diikuti oleh sektor teknologi yang naik 0,26 persen. Di sisi lain, sektor barang konsumen non‑primer masih menghadapi tekanan dengan penurunan 1,85 persen, namun tekanan tersebut teredam oleh penguatan di sektor lain.
Saham-saham unggulan yang mencatat penguatan terbesar meliputi KUAS, ALKA, CSMI, SURI, dan OILS, masing‑masing naik antara 1,5 hingga 2,3 persen. Sebaliknya, saham-saham seperti NETV, YELO, UANG, SOCI, dan BELL mengalami penurunan, namun dampaknya terbatas karena volume perdagangan terdistribusi merata.
Data Perdagangan
Frekuensi perdagangan pada hari tersebut tercatat sebanyak 1.610.561 transaksi dengan total volume 26,81 miliar lembar saham senilai Rp13,38 triliun. Dari total 921 saham yang diperdagangkan, 211 menguat, 461 melemah, dan 149 tetap tidak berubah.
Indeks LQ45, yang mewakili 45 saham berkapitalisasi terbesar, juga berbalik naik 0,14 persen ke level 751,19, menandakan dukungan luas terhadap pergerakan bullish IHSG.
Perbandingan dengan Hari Sebelumnya
Sebelumnya, pada 4 dan 12 Maret 2026, IHSG sempat menutup melemah 0,37 persen karena lonjakan harga minyak yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta serangan terhadap tanker di Teluk Persia. Pada saat itu, WTI dan Brent masing‑masing naik lebih dari 5 persen, menimbulkan kekhawatiran inflasi dan defisit APBN.
Namun, dengan penurunan tajam minyak pada minggu ini, tekanan tersebut berkurang, memungkinkan pasar saham Indonesia untuk beralih ke arah positif, sejalan dengan pergerakan bursa global yang juga merespons penurunan komoditas energi.
Secara keseluruhan, penurunan harga minyak menjadi katalis utama bagi perbaikan indeks saham Indonesia, menegaskan hubungan erat antara pasar energi global dan dinamika pasar modal domestik.
Investor kini menunggu data ekonomi lanjutan dan kebijakan moneter global untuk menilai kelanjutan tren naik ini. Jika tekanan inflasi tetap terkendali, IHSG berpotensi melanjutkan penguatannya dalam minggu-minggu ke depan.









