Keuangan.id – 01 Mei 2026 | Jakarta, 1 Mei 2026 – Pada Hari Buruh Internasional atau May Day 2026, Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) bersama aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) menggelar aksi serentak di lebih dari sepuluh wilayah di Indonesia. Aksi yang diperkirakan dihadiri sekitar 10.000 tenaga kerja ini dilaksanakan di depan kompleks DPR/MPR RI, sekaligus menandai perbedaan strategi dengan perayaan “May Day Fiesta” yang digelar di kawasan Monas.
Latarnya Aksi di Depan DPR
Keputusan menempatkan aksi di depan gedung legislatif, bukan di Monas bersama presiden, dipaparkan oleh Ketua KASBI, Sunarno. Ia menegaskan bahwa tujuan utama bukan menolak pemerintahan, melainkan menyuarakan kekecewaan atas kondisi ketenagakerjaan yang masih jauh dari standar hak pekerja. Sunarno menambahkan bahwa aliansi telah diundang oleh DPR, namun tidak berarti mereka menolak dialog dengan pemerintah.
Komposisi Gerakan GEBRAK
GEBRAK merupakan koalisi luas yang meliputi serikat buruh nasional seperti KASBI, Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), Konfederasi Serikat Nasional (KSN), serta organisasi petani, mahasiswa, dan lembaga non‑pemerintah. Dalam daftar peserta, tercatat perwakilan dari serikat pekerja media, industri kreatif, pekerja platform, tenaga medis, pendidik, serta kelompok agraria. Keberagaman ini mencerminkan tuntutan lintas sektor yang disampaikan dalam aksi.
Tuntutan Utama
- Penetapan Undang‑Undang Ketenagakerjaan yang pro‑buruh, selaras dengan putusan Mahkamah Konstitusi nomor 168 tentang Omnibuslaw Cipta Kerja.
- Reformasi sistem pengupahan, termasuk penghapusan disparitas upah dan penerapan upah layak nasional.
- Pembatalan praktik outsourcing, kontrak kerja sementara, serta skema kemitraan yang eksploitatif.
- Ratifikasi Konvensi ILO 188 dan ILO 190 untuk melindungi pekerja perempuan dan penyandang disabilitas.
- Peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik, dosen, pekerja platform, serta tenaga medis dan kesehatan.
- Penghentian pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan pembubaran serikat buruh secara paksa.
- Penyediaan pendidikan dan layanan kesehatan gratis serta berkualitas bagi seluruh rakyat.
Lokasi Serentak di Seluruh Indonesia
Selain aksi utama di DPR, aksi serentak digelar di kota‑kota besar seperti Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, dan Pontianak. Di Pontianak, mahasiswa menempel poster di tiang baliho Bundaran Digulis untuk menyoroti isu‑isu hak buruh, perampasan lahan, dan kerusakan lingkungan. Setiap lokasi menyesuaikan tema #MayDayBersamaRakyat, menegaskan bahwa gerakan ini bersifat nasional dan tidak terikat pada satu titik saja.
Reaksi Pemerintah dan DPR
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyampaikan salam dari Presiden Prabowo Subianto kepada massa aksi. Meskipun tidak berpartisipasi dalam “May Day Fiesta” di Monas, presiden tetap mengucapkan selamat Hari Buruh. DPR memberikan ruang bagi para demonstran untuk masuk ke kompleks parlemen dan diarahkan ke Ruang Abdul Muis, menandakan adanya kesediaan dialog meski terdapat ketegangan.
Isu‑Isu Pokok yang Diangkat
Para buruh menyoroti praktik fleksibilitas pasar tenaga kerja yang dipercepat oleh regulasi UU Cipta Kerja dan Peraturan Pemerintah No. 35/2021. Menurut mereka, kebijakan ini memicu peningkatan kontrak kerja tidak tetap, upah di bawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), jam kerja berlebih, serta minimnya jaminan sosial. Selain itu, Sunarno menuding menguatnya militerisme dalam proyek‑proyek pemerintah yang membuka peluang korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Dengan aksi May Day 2026, KASBI dan aliansi berharap dapat menekan legislator untuk segera merumuskan Undang‑Undang Ketenagakerjaan baru yang lebih berpihak pada pekerja, sekaligus menegaskan posisi serikat pekerja sebagai kekuatan vital dalam proses demokrasi.
Demonstrasi ini menandai dinamika politik buruh di Indonesia, memperlihatkan bahwa serikat tidak hanya menuntut peningkatan upah, tetapi juga perubahan struktural yang menjamin hak‑hak dasar pekerja di seluruh sektor ekonomi.











