Keuangan.id – 07 Mei 2026 | Jusuf Kalla (JK) kembali menjadi sorotan publik setelah menegur mantan kader PSI, Ade Armando, terkait polemik video ceramahnya yang beredar luas di media sosial. Teguran JK menekankan agar tidak bertindak seenaknya, sekaligus menyoroti implikasi politik dari pengunduran diri Ade dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Latar Belakang Polemik Ceramah JK
Pada Maret 2026, Jusuf Kalla memberikan ceramah di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang kemudian dipotong dan dibagikan tanpa konteks lengkap. Potongan video tersebut memunculkan persepsi keliru tentang pernyataan JK mengenai konsep “syahid” serta kesetaraan pandangan antara Islam dan Kristen. Video yang viral menimbulkan keresahan di kalangan ormas Islam, yang menganggapnya dapat memicu polarisasi.
Ade Armando Mundur dari PSI
Setelah video tersebut beredar, Ade Armando—seorang aktivis media sosial yang dikenal vokal—menyampaikan komentar yang dianggap memprovokasi. Reaksi keras datang dari aliansi 40 ormas Islam yang melaporkan Ade ke Bareskrim Polri dengan tuduhan penghasutan melalui media elektronik. Pada 5 Mei 2026, Ade resmi mengundurkan diri dari PSI di kantor DPP Jakarta. Pengunduran diri diklaim sebagai upaya mencegah dampak negatif laporan polisi menyebar ke institusi partai dan Presiden Jokowi.
Ade menegaskan bahwa tidak ada konflik internal dengan PSI, namun ia memilih mundur demi “kebaikan bersama”. Ia juga membantah semua tuduhan fitnah terhadap JK, menyatakan tidak ada niat menghasut atau memfitnah dalam pernyataannya.
Reaksi Jusuf Kalla
Menanggapi perkembangan tersebut, JK menegur Ade Armando secara tegas melalui konferensi pers. JK menekankan pentingnya bertanggung jawab atas kata-kata yang disebarkan, terutama ketika berkaitan dengan isu sensitif agama. “Jangan seenaknya mengeluarkan pernyataan yang dapat menimbulkan kerusuhan atau menodai nama baik bangsa,” ujar JK. Teguran tersebut sekaligus memperingatkan agar tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan politik pribadi.
Analisis Pengamat
Berbagai pengamat politik memberikan penilaian beragam. Arifki Chaniago dari Aljabar Strategic melihat mundurnya Ade sebagai sinyal reposisi PSI menuju citra yang lebih moderat. Menurutnya, PSI berusaha mengurangi beban kontroversi agar tidak menjadi “blunder” elektoral.
Sementara itu, M. Jamiluddin Ritonga dari Universitas Esa Unggul menilai pengunduran diri Ade merupakan bagian dari kesepakatan di balik layar untuk meredam kritik publik. Ritonga berpendapat bahwa langkah ini dapat menurunkan sorotan negatif terhadap PSI, terutama mengingat keterkaitan partai dengan tokoh-tokoh senior pemerintah.
Dampak Politik dan Sosial
- Pengunduran diri Ade mengurangi risiko efek domino yang dapat melibatkan Presiden Jokowi.
- PSI berpotensi memperbaiki citra publiknya dengan menampilkan wajah baru yang lebih moderat.
- Kasus ini menambah daftar kontroversi terkait penyebaran video potongan ceramah yang dapat menimbulkan misinterpretasi agama.
- Politisasi isu agama berpotensi memperdalam polarisasi antar umat beragama di Indonesia.
Selain Ade, politisi PSI Grace Natalie juga melaporkan diri ke Bareskrim setelah mengkritik video JK. Laporan serupa menegaskan bahwa ormas Islam semakin aktif mengawasi penyebaran konten yang dianggap menyinggung agama.
Secara keseluruhan, teguran JK kepada Ade Armando mencerminkan sensitivitas tinggi terhadap isu agama dan politik di era digital. Langkah Ade mundur dari PSI sekaligus menegaskan bahwa partai harus lebih berhati-hati dalam menampung kader yang mudah menimbulkan kontroversi.
Dengan menutup babak polemik ini, JK berharap agar semua pihak dapat berfokus pada dialog konstruktif tanpa memanfaatkan isu agama untuk kepentingan politik pribadi.











