Berita  

Serangan Israel ke Lebanon Tewaskan Ratusan Orang, Gencatan Senjata Terancam Gagal

Serangan Israel ke Lebanon Tewaskan Ratusan Orang, Gencatan Senjata Terancam Gagal
Serangan Israel ke Lebanon Tewaskan Ratusan Orang, Gencatan Senjata Terancam Gagal

Keuangan.id – 07 Mei 2026 | Israel kembali melakukan serangan ke Lebanon, menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai puluhan lainnya. Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, jumlah korban tewas akibat serangan Israel telah mencapai lebih dari 2.700 orang sejak 2 Maret lalu.

Serangan Israel juga menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur Lebanon, termasuk rumah-rumah, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Lebih dari 1,6 juta orang telah mengungsi dari rumah mereka akibat konflik ini.

Penyerangan di Beirut

Beirut, ibu kota Lebanon, juga menjadi sasaran serangan Israel. Sebuah serangan udara menghantam pinggiran selatan kota, menewaskan seorang komandan Hizbullah bernama Malek Ballout. Serangan ini dilaporkan terjadi pada Rabu, 6 Mei 2026, sekitar pukul 20.00 waktu setempat.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa ia secara pribadi menyetujui serangan tersebut, yang menargetkan seorang komandan dari Unit Radwan, pasukan elite Hizbullah. Laporan media lokal menyebutkan bahwa anggota unit tersebut sedang mengadakan pertemuan ketika serangan terjadi.

Gencatan Senjata Terancam Gagal

Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon diumumkan pada 16 April lalu. Namun, serangan-serangan terus berlanjut, dengan Israel dan Hizbullah saling menuduh melakukan pelanggaran. Sebagian besar serangan udara Israel menghantam wilayah selatan Lebanon, dengan militer Israel menyatakan bahwa mereka menyerang infrastruktur dan individu yang terkait dengan Hizbullah.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan-serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 120 orang di seluruh negeri dalam sepekan terakhir saja, termasuk perempuan dan anak-anak. Kementerian itu tidak membedakan antara kombatan dan warga sipil.

Pemerintah Lebanon menolak pertemuan tingkat tinggi dengan Israel dan menuntut penarikan pasukan Israel sebagai syarat minimum untuk melanjutkan pembicaraan damai. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump masih optimis dapat menyelesaikan konflik ini dan meyakini bahwa masih ada peluang besar bagi kedua negara untuk merumuskan kesepakatan damai pada tahun ini.

Konflik antara Israel dan Lebanon ini telah menyebabkan kenaikan harga energi dunia dan membuat banyak negara menerapkan status darurat energi. Perang ini juga telah menyebabkan kerugian bagi kubu Pasukan Pertahanan Israel, dengan 17 tentara tewas di wilayah selatan Lebanon.

Dalam situasi yang memanas ini, dunia internasional harus terus mendesak kedua belah pihak untuk menghentikan kekerasan dan kembali ke meja perundingan. Hanya dengan cara itu, konflik ini dapat diakhiri dan kedamaian dapat dipulihkan di wilayah yang telah lama terkena dampak perang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *