Keuangan.id – 02 Mei 2026 | Jakarta, 1 Mei 2026 – Peringatan Hari Buruh Internasional di ibu kota menarik perhatian ratusan aktivis lintas generasi, tokoh nasional, serta pejabat tinggi pemerintah. Di antara nama‑nama yang menonjol, Ketua Tim Reformasi Polri, Jim Jimly Asshiddiqie, menegaskan peran penting keamanan dalam melindungi hak‑hak buruh.
Suasana dan Sorotan Acara
Acara yang digelar pada Jumat 1 Mei 2026 berlangsung hangat, menampilkan pidato reflektif mengenai kontribusi buruh terhadap pembangunan nasional. Inisiator utama upacara, aktivis senior peristiwa Malari Hariman Siregar, bersama Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia, Bursah Zarnubi, mengajak semua pihak meninjau kembali kebijakan ketenagakerjaan.
Berbagai pejabat hadir, termasuk Kepala Badan Komunikasi Pemerintah M. Qodari, Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai, Menteri Koperasi Ferry Juliantono, serta Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono. Kehadiran Jimly Asshiddiqie menambah dimensi keamanan pada agenda, menyoroti upaya reformasi Polri dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan adil.
Jimly Asshiddiqie dan Reformasi Keamanan Buruh
Dalam sambutannya, Jimly Asshiddiqie menekankan bahwa keamanan tidak hanya soal penegakan hukum, melainkan juga perlindungan terhadap hak‑hak pekerja di tempat kerja. Ia menyatakan, “Polri berkomitmen untuk mengoptimalkan prosedur pengawasan, mengurangi praktik kekerasan, serta memastikan bahwa setiap keluhan buruh dapat ditangani secara cepat dan transparan.”
Ia menambahkan bahwa tim reformasi Polri sedang menguji sistem pelaporan digital yang memungkinkan pekerja melaporkan pelanggaran tanpa takut akan intimidasi. Sistem ini diharapkan menjadi pionir dalam memperkuat dialog antara pekerja, serikat, dan aparat keamanan.
Fokus Pada Kesejahteraan Buruh
Bursah Zarnubi, yang juga mengusung agenda kesejahteraan, menegaskan pentingnya perlindungan sosial, jaminan kesehatan, serta peningkatan upah minimum. Ia menuturkan, “Buruh adalah tulang punggung pertumbuhan ekonomi. Tanpa mereka, tidak akan ada kemajuan industri.” Pernyataan ini mendapatkan resonansi kuat di antara peserta, termasuk perwakilan serikat buruh yang menuntut implementasi kebijakan konkret.
- Peningkatan upah minimum tahunan
- Penerapan jaminan kesehatan universal bagi pekerja informal
- Pembentukan forum dialog tripartit yang melibatkan pemerintah, pengusaha, dan serikat buruh
Implikasi Politik dan Ekonomi
Acara ini mencerminkan sinergi politik antara kementerian terkait dan aparat keamanan. Dengan Jimly Asshiddiqie sebagai figur sentral, reformasi Polri diproyeksikan menjadi katalisator bagi iklim investasi yang lebih kondusif, khususnya di sektor manufaktur dan industri berat yang sangat bergantung pada tenaga kerja.
Para analis menilai bahwa langkah ini dapat meningkatkan daya saing Indonesia sebagai negara industri. Keamanan yang terjamin akan mendorong perusahaan asing mempertimbangkan Indonesia sebagai destinasi investasi jangka panjang.
Harapan Kedepan
Menutup acara, Bursah Zarnubi menekankan bahwa momentum Hari Buruh harus diubah menjadi aksi nyata. Ia berharap kebijakan yang dijanjikan akan segera diimplementasikan, termasuk reformasi keamanan yang dipimpin oleh Jimly Asshiddiqie.
“Kita harus memastikan bahwa setiap pekerja, baik di kota maupun di daerah terpencil, merasakan manfaat nyata dari kebijakan pemerintah,” kata Bursah. Dengan dukungan lintas sektoral, harapan akan tercapainya kesejahteraan buruh tampak semakin realistis.
Acara berakhir dengan seruan bersama untuk terus menjaga solidaritas, memperkuat dialog, dan memastikan bahwa hak‑hak buruh tidak hanya diucapkan, melainkan diwujudkan dalam kebijakan konkret.











