Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Tapi Kapal AS & Israel Dilarang Masuk!

Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Tapi Kapal AS & Israel Dilarang Masuk!
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Tapi Kapal AS & Israel Dilarang Masuk!

Keuangan.id – 16 Maret 2026 | Iran kembali menegaskan posisi strategisnya di Selat Hormuz, jalur laut paling krusial bagi pasar energi dunia. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa selat tersebut tetap terbuka untuk semua kapal internasional, kecuali bagi kapal milik Amerika Serikat, Israel, dan sekutu‑sekutunya.

Kebijakan Penutupan Selektif Iran

Menurut pernyataan resmi yang disampaikan kepada media pada 14‑15 Maret 2026, Iran tidak bermaksud menutup total Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Namun, Tehran menegaskan bahwa “selat itu hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh‑musuh kami, bagi mereka yang menyerang kami dan sekutu mereka. Yang lain bebas melintas.” Kebijakan ini dipandang sebagai langkah tekanan ekonomi terhadap blok Barat tanpa mengorbankan hubungan dagang dengan negara‑negara netral.

Selat Hormuz menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia serta sejumlah besar gas alam cair. Karena letaknya yang sempit, setiap gangguan dapat memicu volatilitas harga energi internasional. Setelah serangan militer besar‑besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran pada 28 Februari 2026, lalu balasan serangan Iran ke pangkalan‑pangkalan AS dan wilayah Israel, lalu lintas kapal sempat hampir terhenti total. Namun, sejak kebijakan selektif diumumkan, kapal‑kapal niaga dari negara‑negara non‑terlibat kembali melintasi selat dengan aman.

Reaksi Amerika Serikat dan Sekutunya

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 14 Maret 2026 menyerukan kepada sekutu‑sekutunya untuk mengirimkan kapal perang guna menjaga keamanan jalur pelayaran. Dalam unggahan di platform media sosialnya, Trump menyebut negara‑negara seperti China, Perancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris sebagai calon pengirim armada. Ia menegaskan komitmen AS untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka, aman, dan bebas dari gangguan.

Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Alireza Tangsiri, menanggapi pernyataan Trump dengan menegaskan bahwa selat belum ditutup secara militer. IRGC tetap memantau pergerakan kapal perang Amerika, namun menolak tuduhan bahwa Tehran mengancam stabilitas pelayaran global.

Dampak Ekonomi Global

Ketegangan di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional. Analis energi memperkirakan bahwa setiap gangguan tambahan dapat menambah biaya produksi hingga 5‑7 persen, terutama bagi negara‑negara importir minyak dari Timur Tengah. Di samping itu, perusahaan pelayaran melaporkan peningkatan biaya asuransi dan penundaan pengiriman barang karena risiko keamanan yang tinggi.

Strategi Iran yang menutup hanya kapal AS dan Israel mencerminkan upaya geopolitik untuk menekan Barat tanpa menimbulkan isolasi total. Dengan tetap mengizinkan kapal niaga dari negara‑negara lain melintas, Tehran berharap mempertahankan aliran pendapatan dari transit minyak sekaligus menunjukkan kepatuhan terhadap hukum maritim internasional.

Proyeksi Keamanan Laut

Para pengamat memperkirakan bahwa situasi di Selat Hormuz akan tetap tegang selama konflik di wilayah Timur Tengah belum menemukan penyelesaian diplomatik. Iran kemungkinan akan mempertahankan kebijakan penutupan selektif sebagai alat tawar menawar, sementara Amerika Serikat dapat meningkatkan kehadiran militer di perairan tersebut untuk melindungi kepentingannya.

Secara keseluruhan, kebijakan Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi jalur vital bagi perdagangan global, namun aksesnya kini dibatasi bagi kapal-kapal yang dianggap sebagai ancaman keamanan nasional. Perkembangan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh dinamika politik antara Tehran, Washington, dan sekutu‑sekutu regional lainnya.

Exit mobile version