Keuangan.id – 20 April 2026 | Washington kembali menegaskan sikap kerasnya terhadap Iran setelah Menteri Luar Negeri Tehran, Abbas Araghchi, membuka kembali Selat Hormuz pada Jumat, 17 April 2026, dan menutupnya kembali dalam hitungan jam. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesiapan AS untuk melancarkan serangan terhadap infrastruktur kritis Iran bila selat strategis tersebut tidak dibuka kembali, menambah kecemasan dunia tentang stabilitas energi dan keamanan maritim.
Latihan Buka‑Tutup Selat Hormuz
Dalam periode 24 jam, Iran menampilkan taktik politik dengan membuka dan menutup Selat Hormuz secara bergantian. Pembukaan awal dikaitkan dengan berakhirnya gencatan senjata antara AS dan Iran serta kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Namun, blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran terus berlanjut, memaksa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menutup kembali jalur air, dengan ancaman bahwa setiap kapal yang mendekati selat akan dianggap berkolaborasi dengan musuh.
Ketegangan meningkat ketika dua kapal tanker dilaporkan ditembak pada jarak sekitar 32,1 kilometer dari pantai Oman. Kapten kapal menyebut Angkatan Laut Iran sebagai pihak yang memulai serangan. Pernyataan pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menegaskan kesiapan militer untuk menimbulkan “pahitan” bagi musuh yang mengancam kedaulatan negara.
Pernyataan Trump dan Ancaman Infrastruktur
Dalam konferensi pers pada Sabtu, 18 April 2026, Trump menegaskan bahwa meskipun pembicaraan dengan Tehran berjalan baik, Amerika Serikat tidak akan menyerah pada tekanan Iran. “Jika Selat Hormuz tetap ditutup, kami tidak akan segan menargetkan fasilitas energi, pelabuhan, dan jaringan listrik Iran,” ujar Presiden AS, menambah tekanan pada Tehran untuk membuka kembali selat tersebut.
- Trump menyoroti dampak ekonomi global jika minyak dari Teluk Persia terganggu.
- Dia menegaskan bahwa blokade AS akan terus berlanjut hingga transaksi dengan Iran selesai.
- Presiden menambahkan bahwa keputusan memperpanjang atau mengakhiri gencatan senjata masih menjadi pertimbangan strategis.
Taktik Iran Sebagai Kartu Tawar
Pengamat geopolitik menilai bahwa penutupan kembali Selat Hormuz merupakan upaya Tehran untuk mendapatkan leverage dalam negosiasi dengan Washington. Zhang Chuchu, wakil direktur Pusat Studi Timur Tengah Universitas Fudan, menyebut bahwa Iran berusaha mengalihkan beban tekanan kepada AS, sambil menyiapkan alasan untuk menutup jalur air bila blokade terus berlanjut.
Niu Xinchun dari Institut Penelitian China‑Arab Universitas Ningxia menambahkan bahwa kondisi blokade AS mengubah dinamika perjanjian gencatan senjata awal pada 8 April, sehingga Iran merasa berhak menutup kembali selat sebagai respons terhadap tindakan militer Amerika.
Implikasi Ekonomi dan Keamanan Global
Pasar minyak merespons dengan penurunan harga mentah hingga 10 persen setelah pengumuman pembukaan Selat Hormuz oleh Iran. Namun, ancaman serangan infrastruktur Iran dari pihak AS menimbulkan ketidakpastian lebih lanjut. Jika serangan terjadi, produksi minyak Iran dapat terganggu secara signifikan, mengakibatkan lonjakan harga minyak dunia dan potensi krisis energi.
Selain isu energi, perbedaan pendapat mengenai program nuklir Iran tetap menjadi titik keras. Kedua belah pihak masih berdebat tentang penyerahan uranium dan proses pengayaan. Gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada 21 April 2026 menambah tekanan untuk mencapai kesepakatan sebelum eskalasi militer kembali.
Jenderal Mohammed Naqdi, perwira senior militer Iran, menegaskan kesiapan Iran untuk menggunakan rudal produksi Mei 2026 bila konflik kembali pecah. Sementara itu, pejabat Iran menyatakan tidak ingin mengganggu pasokan minyak dunia, meski mereka bersiap untuk bertindak dengan sabar.
Kesimpulannya, dinamika pembukaan‑penutupan Selat Hormuz, ancaman serangan infrastruktur oleh Trump, dan ketegangan seputar program nuklir Iran menciptakan situasi geopolitik yang sangat rapuh. Semua pihak tampak berada pada titik kritis, di mana keputusan selanjutnya dapat memengaruhi stabilitas energi global dan keamanan maritim selama bertahun‑tahun mendatang.
