Keuangan.id – 12 Maret 2026 | Pasar energi dunia mengalami penurunan tajam pada Selasa, 10 Maret 2026, setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa operasi militer melawan Iran hampir selesai dan perang di Timur Tengah diperkirakan akan segera berakhir. Pernyataan itu langsung menurunkan ekspektasi risiko pasokan minyak, memicu penurunan harga Brent hingga lebih dari 10 persen dan menembus ambang $90 per barel pada sesi perdagangan awal Asia.
Reaksi Harga Minyak Mentah
Berikut rangkaian harga utama yang tercatat pada hari itu:
- Brent turun USD 11,16 atau 11 %, mencapai USD 87,80 per barel.
- West Texas Intermediate (WTI) jatuh USD 11,32 atau 11,9 %, berakhir pada USD 83,45 per barel.
- Harga batu bara ICE Newcastle juga melemah 4,43 % menjadi USD 131,55 per ton.
Penurunan tersebut merupakan penurunan harian terbesar sejak Maret 2022, mengakhiri kenaikan harga yang sempat menembus rekor empat tahun terakhir pada Senin, 9 Maret 2026, ketika Brent menyentuh USD 119,50 per barel.
Faktor Geopolitik di Balik Fluktuasi
Trump mengungkapkan keyakinannya dalam wawancara dengan CBS News, menyebut operasi militer “jauh lebih maju” dibandingkan perkiraan awal yang menyebut konflik dapat berlangsung empat hingga lima minggu. Ia menambahkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi “20 kali lebih parah” bila mencoba memblokir jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz.
Meski demikian, Garda Revolusi Iran menolak klaim tersebut dan menegaskan bahwa Teheran akan menentukan kapan perang berakhir. Pihak Iran juga memperingatkan tidak akan membiarkan satu liter minyak keluar dari kawasan jika serangan Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut.
Selain pernyataan Trump, percakapan telepon antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Trump pada hari yang sama turut menenangkan pasar. Kedua pemimpin membahas kemungkinan penyelesaian cepat konflik Iran, yang sebelumnya menjadi penyebab utama ketidakpastian pasokan minyak global.
Dampak Terhadap Pasar Lain
Penurunan harga minyak memengaruhi komoditas lain. Harga minyak sawit mentah (CPO) di Malaysia naik 4,41 % menjadi sekitar MYR 4.568 per ton, sementara nikel dan timah hanya mengalami fluktuasi marginal (naik 0,11 % dan turun 0,49 % masing‑masing). Kondisi ini mencerminkan pergeseran sentimen investor dari energi ke logam industri dan agrikultur.
Langkah Kebijakan Amerika Serikat
Di samping pernyataan politik, pemerintah AS juga mempertimbangkan langkah-langkah konkret untuk menstabilkan pasar energi. Menteri Energi Chris Wright sempat menulis di media sosial bahwa Angkatan Laut AS berhasil mengawal sebuah kapal tanker melalui Selat Hormuz, memastikan aliran minyak tetap berjalan. Namun, unggahan tersebut kemudian dihapus, menambah kebingungan tentang kebijakan operasional militer di kawasan.
Selain itu, Trump dikabarkan sedang mengevaluasi pencabutan sanksi minyak terhadap Rusia, sebuah opsi yang akan meningkatkan pasokan global dan menurunkan tekanan harga. Kebijakan ini, bila diimplementasikan, dapat menurunkan harga Brent ke kisaran USD 70 pada akhir tahun, menurut proyeksi Energy Information Administration (EIA).
Proyeksi Harga Kedepan
Para analis, termasuk Andrew Lipow dari Lipow Oil Associates, memperkirakan bahwa selama jalur pelayaran Selat Hormuz tetap terbuka, harga Brent akan bertahan di atas USD 95 dalam dua bulan ke depan sebelum menurunkan lebih lanjut. Namun, ketegangan politik yang masih tinggi, terutama antara Iran dan Israel, dapat memicu volatilitas kembali.
Secara keseluruhan, penurunan harga minyak pada 10 Maret 2026 menandai titik balik penting setelah spekulasi intensif terkait konflik Timur Tengah. Meskipun pasar menunjukkan respons positif terhadap sinyal akhir perang, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor utama yang dapat memengaruhi harga energi dalam jangka menengah.
Jika jalur Selat Hormuz tetap aman dan kebijakan sanksi Rusia diubah, konsumen energi di seluruh dunia dapat menikmati harga bahan bakar yang lebih stabil, namun pengawasan ketat terhadap dinamika politik regional tetap diperlukan.











