Keuangan.id – 18 April 2026 | Pasar minyak dunia mencatat penurunan signifikan pada hari ini setelah pelabuhan Hormuz dibuka kembali untuk lalu lintas kapal tanker. Harga Brent turun sekitar 11 persen, mencatat level USD92 per barrel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD88 per barrel.
Penurunan ini dipicu oleh harapan pelonggaran ketegangan di Selat Hormuz, jalur utama transportasi minyak dunia yang sempat terhambat akibat ancaman serangan dan blokade. Meski demikian, para analis memperingatkan bahwa risiko keamanan masih tinggi dan potensi penutupan kembali jalur tersebut dapat memicu volatilitas kembali.
Berikut ringkasan perubahan harga utama pada sesi perdagangan terakhir:
| Komoditas | Harga Sebelumnya | Harga Saat Ini | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Brent | USD103/bbl | USD92/bbl | -11% |
| WTI | USD95/bbl | USD88/bbl | -7,4% |
Penurunan harga minyak ini memiliki dampak langsung pada sektor energi dan ekonomi makro, khususnya bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Harga yang lebih rendah dapat menurunkan beban biaya produksi dan transportasi, serta memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar. Namun, penurunan harga juga dapat menekan pendapatan perusahaan energi domestik dan memengaruhi investasi di sektor migas.
Pengamat pasar menilai bahwa pergerakan harga ke arah bawah belum tentu bersifat permanen. Faktor-faktor geopolitik, termasuk potensi konflik baru di Timur Tengah, kebijakan produksi OPEC+ serta permintaan global yang masih dipengaruhi oleh pemulihan ekonomi pasca‑pandemi, akan terus menjadi penentu utama arah pasar minyak dalam beberapa minggu mendatang.











