Keuangan.id – 06 April 2026 | Italia kembali menorehkan sejarah kelam dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 setelah tersingkir di babak play‑off zona Eropa. Kekalahan dramatis melawan Bosnia‑Herzegovina lewat adu penalti pada 1 April 2026 memicu gelombang kritik, pergantian kepelatihan, hingga perdebatan publik mengenai peran pemain kunci seperti Alessandro Bastoni.
Kegagalan Italia di Play‑off
Pertandingan penentu tempat di Piala Dunia 2026 berlangsung di Stadion Bluenergy, Udine, dengan sorotan dunia mengawasi. Italia sempat unggul lewat gol tunggal, namun kesalahan tak terduga mengakibatkan kedua tim berakhir imbang 1‑1. Pada menit ke‑41, Alessandro Bastoni menerima kartu merah, memaksa Italia bermain dengan sepuluh pemain. Setelah perpanjangan waktu, duel penalti berakhir 1‑4 untuk kemenangan Bosnia‑Herzegovina.
Kegagalan ini menandai ketiga kali berturut‑turut Italia absen dari turnamen dunia, sebuah catatan yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern tim Azzurri.
Keputusan Gattuso: Mengundurkan Diri Tanpa Mengklaim Pesangon
Gennaro Gattuso, yang menjabat sebagai pelatih kepala sejak Juni 2025, mengumumkan pengunduran diri pada 3 April 2026. Keputusan itu diambil setelah perbincangan intens dengan federasi sepak bola Italia (FIGC) dan menanggapi kegagalan tim di play‑off.
Langkah berani Gattuso adalah menolak mengambil hak pesangon dari sisa kontraknya, demi memastikan seluruh staf pelatih menerima kompensasi secara penuh. Gattuso menyatakan, “Saya rela melepas hak finansial pribadi demi kepentingan tim yang bekerja bersamaku selama masa jabatan.”
Keputusan tersebut mengingatkan pada tindakan serupa yang pernah diambilnya saat meninggalkan AC Milan pada 2019, dimana ia juga menutup kontrak tanpa menuntut sisa gaji demi stafnya.
Bastoni di Tengah Kontroversi: Lautaro Martinez Membela Rekan
Setelah insiden kartu merah, Alessandro Bastoni menjadi target utama kritik publik dan media. Beberapa analis menuduhnya menjadi faktor utama kegagalan Italia, menuding penurunan performa dan keputusan taktis yang merugikan.
Kapten Inter Milan, Lautaro Martinez, secara terbuka membela Bastoni. Dalam pernyataan yang dikutip oleh beberapa portal, Martinez menekankan bahwa semua pemain memberikan “segala yang mereka punya di lapangan”. Ia menambahkan, “Penurunan performa adalah hal yang wajar, namun pemain seperti Bastoni tetap bekerja dengan kepala tegak dan memberikan yang terbaik.”
Martinez juga menegaskan bahwa kritik berlebihan dapat mempengaruhi moral tim, dan bahwa dukungan internal sangat penting untuk memulihkan semangat pemain.
Reaksi Publik dan Media
- Penggemar Italia melontarkan protes di media sosial, menuntut pertanggungjawaban pelatih dan pemain.
- Beberapa pundit menilai bahwa kegagalan lebih disebabkan oleh kurangnya persiapan taktis dibandingkan kesalahan individu.
- Berita internasional menyoroti keputusan Gattuso yang menolak pesangon sebagai contoh integritas dalam dunia sepak bola.
Masa Depan Timnas Italia
FIGC kini dihadapkan pada tugas mencari pengganti Gattuso yang dapat menata kembali fondasi tim. Prioritas utama meliputi:
- Menetapkan filosofi permainan yang konsisten.
- Merekrut pelatih dengan pengalaman di kompetisi internasional.
- Menjaga kesejahteraan psikologis pemain pasca‑kegagalan.
- Mengoptimalkan generasi muda yang sudah menunjukkan potensi di liga domestik.
Selain itu, pertahanan yang lemah dan disiplin pada situasi kritis menjadi fokus perbaikan, mengingat insiden kartu merah Bastoni menjadi contoh konkret kekurangan tersebut.
Dengan perubahan kepelatihan yang akan datang, harapan besar masih tetap ada bagi Azzurri untuk bangkit kembali dan mengembalikan kejayaan Italia di panggung dunia. Namun, proses rehabilitasi memerlukan waktu, kebijakan yang tepat, serta dukungan semua pihak, mulai dari federasi, pelatih, hingga suporter.











