Keuangan.id – 21 Mei 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan ingin melanjutkan serangan terhadap Iran. Trump menyatakan bahwa Netanyahu akan melakukan apa pun yang dia inginkan, setelah keduanya berbicara lewat telepon mengenai kemungkinan melanjutkan serangan terhadap Iran.
Trump dan Netanyahu dilaporkan memiliki perbedaan pendapat mengenai langkah berikutnya dalam perang Iran. Netanyahu disebut meragukan negosiasi dengan Teheran dapat menghasilkan perdamaian dan ingin melanjutkan serangan, sementara Trump lebih memilih solusi diplomatik untuk mengakhiri ambisi nuklir Iran.
Perbedaan Pendapat
Menurut laporan media Israel, Trump dan Netanyahu sempat bentrok dalam percakapan telepon "dramatis" pada Selasa malam terkait kelanjutan perang melawan Iran. Trump mengatakan bahwa dirinya "tidak terburu-buru" mencapai kesepakatan dengan Iran, namun Gedung Putih berada pada "tahap akhir" negosiasi.
Trump juga mengatakan bahwa kesepakatan mungkin akan tercapai, atau "kami akan melakukan beberapa hal yang agak buruk, tetapi semoga itu tidak terjadi." Ia menambahkan bahwa "Kami menghantam mereka dengan sangat keras. Kami mungkin harus menghantam mereka lebih keras lagi — tetapi mungkin juga tidak."
Kondisi Perang
Mengakhiri program nuklir Iran menjadi garis merah bagi AS maupun Israel. Namun, laporan menyebut para pembuat strategi Israel khawatir Trump pada akhirnya akan menawarkan kesepakatan yang dianggap "lemah" demi mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Syarat yang diajukan AS dalam kesepakatan mencakup tidak adanya reparasi perang untuk Iran, penyerahan 450 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, pembatasan fasilitas nuklir Iran hanya menjadi satu lokasi, pencairan kurang dari 25 persen aset Iran yang dibekukan, serta gencatan senjata yang bergantung pada kelanjutan negosiasi.
Iran menginginkan perang dihentikan di semua front, khususnya di Lebanon, pencabutan seluruh sanksi, pencairan dana yang dibekukan, kompensasi kerusakan perang, serta pengakuan atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz.
Pejabat militer Israel juga disebut telah menyampaikan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah "mengisi kembali" daftar target potensial di Iran dan yakin dapat melemahkan rezim Iran secara signifikan lewat gelombang pengeboman baru.
Israel juga dilaporkan semakin frustrasi terhadap gencatan senjata di Lebanon yang dianggap membatasi gerak mereka sementara Hizbullah terus menyerang tentara dan warga sipil Israel.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa perang di Timur Tengah akan semakin memburuk jika tidak ada solusi yang efektif untuk menghentikan konflik. Diperlukan diplomasi yang serius dan kesepakatan yang adil untuk mengakhiri perang dan membawa perdamaian di kawasan tersebut.











