Keuangan.id – 21 Mei 2026 | Iran telah meluas blokae Selat Hormuz, yang merupakan jalur air strategis yang sangat penting bagi perdagangan dunia. Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA) Iran mengumumkan pembentukan zona maritim terkontrol di Selat Hormuz, yang membentang dari Kuh Mobarak di Iran hingga Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA).
Zona maritim terkontrol ini diumumkan oleh PGSA pada Rabu (20/5/2026), dan merupakan langkah lanjutan dari upaya Iran untuk membatasi akses kapal-kapal asing ke Selat Hormuz. Otoritas ini juga menerbitkan peta yang menggambarkan zona yang baru di Teluk Persia.
Pada saat yang sama, pemerintah dan media resmi Iran bergerak cepat meredam spekulasi liar mengenai kondisi kesehatan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei. Mereka menegaskan bahwa luka yang dialami Mojtaba tidak serius, dan membantah kabar yang menyebut dirinya mengalami cedera parah pasca-serangan militer dalam perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Cedera yang dialami Mojtaba menurut pemerintah Iran adalah luka ringan berupa retakan kecil di bagian belakang telinga. Pernyataan ini diperkuat oleh Kepala Pusat Hubungan Masyarakat dan Informasi Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour.
Mengenai alasan mengapa Mojtaba belum tampil lagi di hadapan publik, pemerintah Iran meminta masyarakat untuk tetap tenang dan bersabar. Mereka berjanji bahwa Mojtaba akan berbicara kepada khalayak pada waktu yang tepat.
Kondisi Mojtaba digambarkan jauh lebih serius hingga membatasi keterlibatannya dalam mengurus negara oleh beberapa media regional dan internasional. Namun, pemerintah Iran tetap menegaskan bahwa kondisi kesehatan Mojtaba baik dan tidak ada yang perlu khawatir.
Dalam menanggapi langkah Iran, Washington telah terus mendesak tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali jalur air strategis tersebut. Mereka juga telah membentuk sebuah badan untuk memberikan izin transit melalui Selat Hormuz dan memungut biaya tol dari kapal-kapal yang melintas.
Otoritas Iran juga telah mengancam akan menyerang kapal apa pun yang melintasi selat tanpa izin mereka. Mereka telah mendefinisikan dirinya sebagai “badan hukum dan otoritas perwakilan Republik Islam Iran untuk mengelola jalur dan transit melalui Selat Hormuz”.
Pertanyaan yang muncul adalah apa yang akan terjadi dengan kondisi ekonomi dunia jika Selat Hormuz tetap terblokir. Bagaimana kapal-kapal akan menavigasi melalui zona maritim terkontrol ini? Dan bagaimana pemerintah Iran akan memastikan bahwa kapal-kapal asing tidak akan melanggar zona tersebut?
Selain itu, bagaimana keputusan Iran akan dipengaruhi oleh kondisi kesehatan Mojtaba? Apakah keputusan tersebut akan dipengaruhi oleh kemampuan Mojtaba untuk melanjutkan perannya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran?
Beberapa pertanyaan ini masih belum terjawab. Namun, satu hal yang jelas adalah bahwa situasi di Selat Hormuz sedang semakin kompleks dan membutuhkan perhatian dari seluruh dunia.











