Keuangan.id – 23 April 2026 | Sudah menginjak 38 hari sejak ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memanas kembali, menimbulkan dampak luas pada pasar energi global dan indeks saham utama di Wall Street. Kenaikan tajam harga minyak menjadi sorotan utama, sementara bursa Amerika menurun secara signifikan akibat kekhawatiran investor akan kelanjutan konflik.
Kenaikan Harga Minyak yang Drastis
Harga minyak mentah Brent pada perdagangan terakhir tercatat di atas US$101 per barel, menembus level psikologis US$100 untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua minggu. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$92,9 per barel. Kedua indeks tersebut naik lebih dari 3 persen dibandingkan hari sebelumnya, dipicu oleh:
- Penurunan persediaan bensin dan distilat di Amerika Serikat yang lebih besar dari perkiraan analis.
- Ketidakpastian atas jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, yang masih dibatasi oleh kedua belah pihak.
- Berita bahwa Iran menyita dua kapal kontainer di selat strategis tersebut, menambah risiko geopolitik.
Para pelaku pasar menilai bahwa meski ada perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump, langkah tersebut belum cukup meyakinkan untuk membuka kembali lalulintas minyak secara normal.
Dampak pada Bursa Amerika Serikat
Indeks Dow Jones dan S&P 500 mengalami penurunan masing-masing sebesar 1,4% dan 1,2% pada sesi perdagangan hari itu. Penurunan ini dipicu oleh tiga faktor utama:
- Penurunan ekspektasi pertumbuhan ekonomi global akibat gangguan pasokan energi.
- Kekhawatiran akan inflasi yang semakin tinggi karena harga energi naik.
- Penjualan saham sektor energi yang dipicu oleh volatilitas harga minyak.
Investor beralih ke aset safe‑haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah, yang membuat pasar saham berfluktuasi intens.
Selat Hormuz: Titik Kritis Perdagangan Minyak
Selat Hormuz tetap menjadi jalur krusial, mengalirkan sekitar 20 persen pasokan harian minyak dan gas alam cair dunia. Pembatasan lalu lintas kapal yang dilakukan Iran dan blokade sebagian oleh Angkatan Laut Amerika Serikat menimbulkan gangguan signifikan. Menurut laporan militer AS, setidaknya tiga kapal tanker berbendera Iran telah dicegat dan diarahkan menjauhi rute utama di perairan Asia Tenggara.
Negosiasi damai yang dipimpin oleh mediator Pakistan masih berada dalam fase stagnan. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa gencatan senjata penuh hanya dapat dilaksanakan bila blokade laut dicabut secara total.
Ekspor Minyak Amerika Naik di Tengah Krisis
Secara ironis, total ekspor minyak mentah dan produk petroleum AS mencatat rekor baru sebesar 12,88 juta barel per hari, naik 137.000 barel dibandingkan minggu sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh permintaan kuat dari negara‑negara Asia dan Eropa yang berusaha mengamankan pasokan alternatif di tengah gangguan di Timur Tengah.
Data Badan Informasi Energi (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah domestik naik 1,9 juta barel, sementara stok bensin turun 4,6 juta barel dan distilat menurun 3,4 juta barel, melampaui ekspektasi analis.
Prospek Kedepan dan Risiko Pasar
Jika perundingan damai tidak menghasilkan kesepakatan konkret dalam beberapa minggu mendatang, kemungkinan besar harga minyak akan tetap berada di atas US$100 per barel, menambah tekanan inflasi global. Di sisi lain, pasar saham AS dapat terus bergejolak hingga ada kejelasan mengenai kebijakan blokade dan stabilitas geopolitik di kawasan Teluk Persia.
Investor disarankan untuk memantau secara cermat perkembangan diplomatik, data persediaan energi, serta pergerakan indeks utama sebagai indikator risiko yang semakin tinggi.











