Keuangan.id – 04 April 2026 | Jalan Soepomo di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, kembali menjadi sorotan publik setelah gambar zebra cross bergambar karakter Pac‑Man yang sempat menjadi fenomena viral di media sosial. Kejadian ini memicu wacana tentang keselamatan jalan, partisipasi warga, dan regulasi tata kota. Menanggapi situasi tersebut, Dinas Bina Marga DKI Jakarta mengumumkan rencana penataan ulang zebra cross tersebut, sekaligus menjelaskan alasan teknis di balik keputusan itu.
Sejarah Singkat Zebra Cross Pac‑Man
Garis putih konvensional pada zebra cross di Jalan Soepomo diubah menjadi karya seni jalan dengan menambahkan ilustrasi ikonik dari game klasik Pac‑Man. Inisiatif ini dipelopori oleh seniman jalanan bernama Ijoel, yang menyatakan bahwa gambar tersebut merupakan kritik sosial terhadap lambatnya respons pemerintah dalam menyediakan fasilitas penyeberangan yang memadai. Zebra cross berwarna ini pertama kali muncul sekitar akhir 2025 dan dengan cepat menyebar melalui postingan Instagram, TikTok, serta platform media lain, menimbulkan perdebatan antara dukungan warga dan pertanyaan dari pihak berwenang.
Reaksi Pemerintah dan Penjelasan Dinas Bina Marga
Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Siti Dinar Wenny, menjelaskan bahwa penataan ulang akan dilakukan setelah melakukan survei lapangan secara menyeluruh. “Apabila lokasi dan kondisinya dinilai memenuhi ketentuan, tidak menutup kemungkinan untuk diakomodasi atau disesuaikan sebagai bagian dari penataan resmi,” ujarnya dalam konferensi pers pada 3 April 2026. Wenny menekankan bahwa standar teknis, termasuk ukuran, kontras warna, serta material yang digunakan, menjadi faktor utama dalam keputusan akhir.
Selain itu, Kepala Suku Dinas Bina Marga Jakarta Selatan, Rifki Rismal, menegaskan bahwa zebra cross yang telah diwarnai tersebut akan dihapus dan diganti dengan zebra cross standar yang sesuai regulasi. Menurutnya, karya seni yang menggunakan cat semprot diperkirakan hanya bertahan selama satu bulan, sehingga tidak cocok menjadi fasilitas permanen bagi penyeberang jalan.
Alasan Teknis Penataan Ulang
- Keamanan Visual: Warna-warna terang yang tidak sesuai standar dapat mengurangi kontras antara garis putih dan aspal hitam, menyulitkan pengendara dalam mengenali zona penyeberangan, terutama pada malam hari.
- Ketahanan Material: Cat semprot tidak dirancang untuk menahan beban kendaraan berat dan cuaca ekstrem, sehingga risiko terkelupas atau pudar meningkat dalam waktu singkat.
- Standar Regulasi: Peraturan Daerah DKI Jakarta mengatur dimensi, jarak antar garis, serta penggunaan bahan reflektif untuk memastikan efektivitas zebra cross dalam situasi darurat.
- Integrasi dengan Infrastruktur Lain: Penataan ulang harus selaras dengan proyek perbaikan jalan Dr. Prof. Saharjo yang sedang berlangsung, termasuk pemasangan marka jalan baru dan perbaikan permukaan aspal.
Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat
Walaupun penataan ulang bersifat teknis, Dinas Bina Marga tetap membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat. Wenny menyatakan, “Dinas Bina Marga terbuka terhadap kolaborasi dengan masyarakat dalam upaya meningkatkan keselamatan pengguna jalan, sepanjang tetap mengacu pada regulasi serta hasil kajian teknis dari instansi terkait.” Hal ini menunjukkan sikap pemerintah yang mengapresiasi kreativitas warga, namun tetap menekankan pentingnya standar keselamatan.
Beberapa warga yang terlibat dalam pembuatan zebra cross mengusulkan agar karya seni tersebut dipindahkan ke area non‑kelautan, seperti taman atau ruang publik lain, di mana fungsi estetika dapat dipertahankan tanpa mengorbankan keselamatan lalu lintas.
Proyeksi Penyelesaian
Menurut pihak Dinas Bina Marga, penataan ulang diharapkan selesai dalam pekan ini, bersamaan dengan penyelesaian empat zebra cross lainnya yang sebelumnya tertimpa aspal hitam pada perbaikan jalan Dr. Prof. Saharjo. Lokasi tersebut meliputi depan Universitas Sahid, seberang Kinderfield School, depan Jalan KH Ramli, dan di depan Pop Hotel. Penataan kembali ini menjadi bagian dari upaya komprehensif memperbaiki jaringan penyeberangan di wilayah Tebet dan sekitarnya.
Dengan adanya penataan ulang, diharapkan tingkat kecelakaan di titik tersebut menurun, mengingat data kecelakaan lalu lintas di kawasan Tebet pada tahun 2025 menunjukkan peningkatan insiden pejalan kaki yang terkait dengan marka jalan tidak konsisten.
Kesimpulannya, fenomena zebra cross Pac‑Man yang sempat menjadi viral menyoroti pentingnya keseimbangan antara kreativitas warga dan standar keselamatan jalan. Dinas Bina Marga DKI Jakarta mengambil langkah konkret dengan meninjau kembali kondisi lapangan, memastikan kepatuhan pada regulasi, dan tetap membuka dialog dengan masyarakat untuk menciptakan solusi yang aman serta estetis.











