Keuangan.id – 17 April 2026 | Bank Negara Indonesia (BNI) kembali mengingatkan nasabahnya untuk lebih berhati-hati dalam mengakses tautan digital, terutama yang datang melalui pesan singkat, email, atau media sosial. Praktik mengklik link tanpa verifikasi dapat membuka peluang bagi para penjahat siber untuk mencuri data pribadi, melakukan penipuan finansial, atau menyebarkan malware.
Beberapa modus operandi yang sering ditemui antara lain:
- Phishing: Penipu mengirimkan pesan yang tampak resmi, meminta nasabah memasukkan nomor rekening, PIN, atau data identitas lain.
- Smishing: Versi SMS dari phishing, biasanya mengandung tautan yang mengarahkan ke situs palsu.
- Vishing: Penipuan lewat telepon, di mana pelaku mengaku sebagai petugas bank dan meminta verifikasi data.
BNI menekankan langkah-langkah preventif berikut untuk melindungi data dan dana nasabah:
- Periksa sumber pesan. Pastikan pengirim berasal dari nomor resmi atau alamat email yang terdaftar.
- Jangan pernah memasukkan data sensitif (seperti PIN, password, atau OTP) pada halaman yang tidak dikenal.
- Gunakan aplikasi perbankan resmi yang diunduh dari toko aplikasi resmi.
- Aktifkan fitur keamanan tambahan, seperti otentikasi dua faktor (2FA) dan notifikasi transaksi.
- Lakukan verifikasi ulang dengan menghubungi layanan nasabah resmi bila ragu.
Selain langkah individu, BNI juga berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk memonitor dan menindaklanjuti upaya kejahatan siber. Bank terus memperkuat sistem keamanan siber, termasuk enkripsi data, pemantauan transaksi real‑time, dan pelatihan keamanan bagi karyawan.
Para ahli mengingatkan bahwa kebocoran data tidak hanya berdampak pada kerugian finansial, tetapi juga dapat merusak reputasi pribadi dan perusahaan. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan tentang bahaya tautan berbahaya menjadi kunci utama dalam memerangi kejahatan digital.











