Keuangan.id – 26 April 2026 | Penyuluhan kesehatan terbaru menegaskan bahwa vaksin Human Papillomavirus (HPV) tetap efektif bagi wanita yang telah melahirkan, terutama pada usia produktif. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Darrell Fernando, menegaskan bahwa tidak ada batasan usia setelah melahirkan untuk memulai atau melengkapi rangkaian vaksinasi HPV.
Manfaat Vaksin HPV bagi Wanita Pasca Persalinan
Vaksin HPV bekerja dengan menstimulasi sistem imun untuk melawan tipe virus yang paling sering menyebabkan kanker serviks, kanker vagina, serta kanker orofaring. Bagi wanita yang baru saja melahirkan, imunisasi dapat membantu melindungi diri dari reinfeksi dan mengurangi risiko perkembangan lesi pra-kanker pada serviks. Data Globocan 2022 mencatat lebih dari 36.000 kasus kanker serviks di Indonesia, menempatkannya pada posisi ketiga kanker terbanyak pada perempuan.
Mispersepsi yang Masih Mengakar
Banyak masyarakat masih menganggap bahwa setelah menikah dan melahirkan, risiko terjangkit HPV berkurang karena pasangan terbatas. Dr. Darrell menepis anggapan tersebut, menjelaskan bahwa HPV dapat menempel pada kulit dan menular melalui kontak seksual, bahkan bila pasangan tetap satu. Oleh karena itu, vaksinasi tetap diperlukan sebagai langkah preventif meski tidak ada riwayat perubahan pasangan.
Program Nasional dan Akses Gratis
Kementerian Kesehatan terus memperluas program vaksinasi. Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) menyediakan vaksin HPV gratis bagi anak perempuan kelas 5 dan 6 SD (usia 11‑12 tahun). Pada 2026, kementerian menargetkan penambahan program vaksinasi bagi anak laki‑laki berusia 11 tahun, mengingat laki‑laki dapat menjadi pembawa (carrier) virus dan menularkannya kepada pasangan.
Selain program gratis, kerja sama Indonesia‑China sedang dikelola untuk meningkatkan pasokan vaksin, memastikan ketersediaan di wilayah terpencil dan mengurangi kesenjangan akses.
Pap Smear Masih Penting Walau Sudah Vaksin
Vaksin HPV tidak menggantikan skrining. Pap smear tetap menjadi metode deteksi dini perubahan sel serviks. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemeriksaan pap smear setiap tiga tahun bagi perempuan aktif secara seksual hingga usia 65 tahun. Kombinasi vaksinasi dan pap smear terbukti menurunkan angka mortalitas kanker serviks secara signifikan.
Di Indonesia, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diperluas pada 2026 mencakup layanan skrining serviks, memudahkan akses bagi perempuan di daerah kurang terlayani. Edukasi publik juga digencarkan untuk meningkatkan kesadaran bahwa vaksin dan pap smear saling melengkapi, bukan bersaing.
Target Eliminasi Kanker Serviks 2030
Strategi nasional menargetkan eliminasi kanker serviks pada tahun 2030 melalui tiga pilar utama: peningkatan cakupan vaksinasi, skrining massal, dan peningkatan kapasitas layanan kesehatan. Dengan lebih dari 36 ribu kasus baru dan sekitar 21 ribu kematian tiap tahun, upaya terpadu ini menjadi sangat krusial.
Secara keseluruhan, para pakar menekankan bahwa “never too late” merupakan prinsip utama: baik wanita yang baru melahirkan maupun yang sudah berusia lebih matang tetap dapat memperoleh perlindungan optimal melalui vaksin HPV, asalkan didukung oleh pemeriksaan pap smear rutin.









