Keuangan.id – 14 Maret 2026 | Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menegaskan bahwa upaya Eropa untuk kembali menggunakan bahan bakar fosil Rusia akan menjadi langkah strategis yang keliru, terutama di tengah gejolak geopolitik yang dipicu oleh perang di Iran. Pernyataan ini muncul bersamaan dengan kritik keras dari pemimpin Uni Eropa lainnya, termasuk Presiden Dewan Eropa António Costa dan Kanselir Jerman Friedrich Merz, terhadap keputusan Amerika Serikat yang melonggarkan sanksi minyak Rusia.
Kontroversi Sanksi Minyak Rusia
Washington memutuskan untuk mengangkat sanksi atas ekspor minyak Rusia melalui laut, sekaligus memberikan dispensasi kepada penyuling India untuk membeli minyak yang masih berada di bawah sanksi. Langkah tersebut dipandang oleh banyak pemimpin Eropa sebagai tindakan unilateral yang dapat menggerus upaya menekan pendapatan Rusia dari perang di Ukraina serta memperlemah posisi tawar Uni Eropa dalam negosiasi energi.
Friedrich Merz menilai keputusan AS “sangat tidak tepat” dan mengingatkan bahwa melonggarkan sanksi dapat memperpanjang konflik dan mengurangi tekanan pada Rusia. Sementara itu, António Costa menulis di media sosial bahwa keputusan tersebut “sangat mengkhawatirkan” karena berdampak pada keamanan Eropa secara keseluruhan.
Ursula von der Leyen dan Strategi Energi Eropa
Dalam sebuah pidato di Parlemen Eropa, von der Leyen menolak gagasan kembali ke minyak Rusia sebagai solusi jangka pendek untuk menurunkan harga energi. Ia menekankan bahwa diversifikasi energi menuju sumber terbarukan dan tenaga nuklir telah membuahkan hasil, namun tetap diperlukan tindakan segera untuk melindungi konsumen dari lonjakan biaya.
Von der Leyen menguraikan empat komponen utama yang akan ditinjau kembali untuk menurunkan tagihan energi rumah tangga dan industri: harga energi itu sendiri, biaya jaringan, pajak serta levy, dan biaya karbon. Ia juga menyebutkan paket bantuan negara, penggunaan perjanjian pembelian energi (PPA), serta kemungkinan penerapan batas harga gas sebagai langkah penyangga.
Pengaruh Konflik Iran Terhadap Pasar Energi
Perang yang meletus di Iran memperburuk ketegangan di Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak dunia. Harga minyak mentah melonjak melewati $100 per barel, menambah beban pada negara-negara konsumen energi, termasuk Eropa. Von der Leyen mengingatkan bahwa krisis ini menegaskan pentingnya ketahanan energi dan menolak setiap usulan untuk kembali ke pasokan minyak Rusia sebagai respons jangka pendek.
Di sisi lain, perdebatan internal Uni Eropa mengenai sikap terhadap perang Iran masih berlangsung. Sementara von der Leyen menyatakan bahwa “tatanan dunia lama” telah berubah, António Costa menegaskan perlunya menjaga sistem berbasis aturan (rules‑based order). Ketegangan ini mencerminkan perbedaan pandangan antara institusi Eropa tentang cara menanggapi konflik Timur Tengah tanpa mengorbankan prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia.
Implikasi Politik dan Ekonomi
Keputusan AS untuk melonggarkan sanksi minyak Rusia tidak hanya memengaruhi dinamika energi, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang solidaritas transatlantik. EU masih berupaya menekan anggota seperti Hungaria dan Slovakia untuk menandatangani sanksi putaran ke‑20 terhadap Rusia, sementara Amerika Serikat mengedepankan kepentingan domestik dan stabilitas pasar energi.
Para analis menilai bahwa kebijakan energi Eropa yang berfokus pada diversifikasi dan inovasi teknologi akan menjadi faktor kunci dalam menjaga kemandirian energi serta mengurangi ketergantungan pada sumber eksternal yang rentan terhadap geopolitik. Langkah-langkah seperti investasi dalam energi terbarukan, pengembangan infrastruktur penyimpanan energi, serta peningkatan efisiensi energi di sektor industri dan transportasi dipandang sebagai jalan keluar jangka panjang.
Di tengah tekanan inflasi dan krisis energi, pemerintah Eropa juga harus menyeimbangkan antara kebijakan iklim dan kebutuhan mendesak untuk menurunkan beban biaya energi pada masyarakat. Kebijakan subsidi, kontrol harga, dan insentif bagi konsumen rumah tangga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kestabilan sosial.
Kesimpulannya, meski ada dorongan dari luar untuk melonggorkan sanksi terhadap Rusia, von der Leyen tetap berpegang pada prinsip bahwa kembali ke minyak Rusia bukanlah solusi yang berkelanjutan. Fokus pada diversifikasi energi, kebijakan harga yang terukur, dan solidaritas Uni Eropa menjadi kunci dalam menghadapi tantangan energi global yang dipicu oleh konflik Iran dan ketegangan geopolitik lainnya.









