Keuangan.id – 30 April 2026 | Pada akhir April 2026, PT Pertamina kembali menyesuaikan tarif bahan bakar minyak (BBM) di seluruh jaringan SPBU nasional. Penyesuaian ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang melampaui USD 100 per barel, serta fluktuasi nilai tukar. Dari total tujuh varian BBM yang dipasarkan, tiga di antaranya mengalami kenaikan signifikan, sementara empat jenis tetap pada harga sebelumnya.
Rincian Harga Non-Subsidi
Kenaikan paling mencolok terjadi pada BBM non-subsidi, terutama jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Harga baru per liter tercatat sebagai berikut:
| Jenis BBM | Harga Baru (Rp/liter) | Kenaikan (Rp) |
|---|---|---|
| Pertamax Turbo | 19.400 | +6.300 |
| Dexlite | 23.600 | +9.400 |
| Pertamina Dex | 23.900 | +9.400 |
Harga sebelumnya untuk ketiga produk ini masing‑masing Rp13.100, Rp14.200, dan Rp14.500 per liter. Kenaikan ini mencerminkan upaya Pertamina menyesuaikan margin penjualan dengan biaya impor bahan baku yang meningkat.
Harga BBM Subsidi dan Premium yang Tetap
Sementara itu, tarif BBM bersubsidi dan beberapa varian premium tidak berubah. Berikut ini daftar lengkap harga yang tetap berlaku:
- Pertamax (RON 92) – Rp12.300 per liter
- Pertamax Green – Rp12.900 per liter
- Pertalite – Rp10.000 per liter
- Biosolar – Rp6.800 per liter
Kebijakan ini sejalan dengan keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang mengacu pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 11 Tahun 2022 tentang perhitungan harga jual eceran BBM.
Faktor Penyebab Kenaikan
Penyesuaian harga non-subsidi dipengaruhi oleh tiga faktor utama:
- Kenaikan Harga Minyak Dunia: Konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memperparah volatilitas pasar minyak, mendorong harga spot di atas US$100 per barel.
- Nilai Tukar Rupiah: Pelemahan nilai tukar terhadap dolar meningkatkan biaya impor minyak mentah.
- Kebijakan Pemerintah: Kementerian ESDM menegaskan bahwa penyesuaian selanjutnya akan bergantung pada dinamika harga dunia, dengan pernyataan Bahlil Lahadalia bahwa “jika harga turun, tidak ada kenaikan; jika tetap tinggi, penyesuaian akan dipertimbangkan.”
Dampak terhadap Konsumen dan Industri
Kenaikan tarif pada produk premium dapat meningkatkan beban operasional bagi pengemudi kendaraan pribadi dan armada komersial. Namun, tetap dipertahankannya harga subsidi seperti Pertalite dan Biosolar membantu menstabilkan biaya transportasi bagi masyarakat berpendapatan menengah ke bawah.
Di sisi lain, tren naiknya harga BBM non-subsidi memberikan peluang bagi pasar kendaraan listrik (EV) untuk berkembang lebih cepat. Sejumlah produsen otomotif lokal telah meluncurkan model EV dengan harga kompetitif, memanfaatkan momentum kebijakan energi bersih.
Proyeksi Penyesuaian Selanjutnya
Menilik kebijakan sebelumnya, pemerintah kemungkinan akan melakukan penyesuaian tahap kedua bila harga minyak dunia tetap berada pada level tinggi. Mekanisme penyesuaian harga BBM non-subsidi bersifat otomatis, berdasarkan perhitungan biaya produksi, distribusi, dan margin keuntungan yang ditetapkan dalam peraturan Menteri ESDM.
Untuk konsumen, penting memantau informasi resmi yang dirilis oleh Pertamina melalui situs web maupun aplikasi mobile, agar dapat merencanakan pengeluaran bahan bakar secara lebih tepat.
Secara keseluruhan, update harga BBM Pertamina 25 April 2026 menegaskan hubungan erat antara pasar energi global dan kebijakan domestik. Kenaikan pada tiga varian non-subsidi menandai respons cepat industri terhadap tekanan eksternal, sementara stabilitas harga subsidi menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga kesejahteraan masyarakat.











