Keuangan.id – 05 Mei 2026 | Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memuncak di Selat Hormuz pada awal Mei 2026, menandai titik kritis dalam upaya gencatan senjata yang masih rapuh. Kedua negara melancarkan serangan militer yang saling menuduh, memicu kekhawatiran internasional akan pecahnya konflik lebih luas. Amerika Serikat, dipimpin oleh mantan Presiden Donald Trump, menegaskan bahwa Iran telah meminta gencatan senjata Iran, sementara pihak Tehran membantah dan menegaskan haknya atas jalur strategis tersebut.
Ketegangan di Selat Hormuz
Insiden terbaru melibatkan serangan rudal dan drone yang diluncurkan Iran ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman. Kementerian Luar Negeri UEA menggambarkan aksi tersebut sebagai “eskalasi berbahaya” yang mengancam keamanan regional. Beberapa kapal kecil Iran dilaporkan ditenggelamkan oleh angkatan laut AS, sementara Tehran mengklaim hanya menembakkan tembakan peringatan kepada kapal perang Amerika. Serangan terhadap fasilitas energi di Fujairah menewaskan tiga warga India, dan dua warga di Bukha, Oman, juga terluka akibat ledakan di pesisir.
Reaksi Trump dan Dampak Politik Dalam Negeri
Donald Trump, yang kembali berkuasa menjelang pemilihan kongres, mengeluarkan pernyataan keras kepada Tehran. Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Trump menyatakan bahwa Iran akan “dihapus dari muka bumi” jika melanjutkan serangan terhadap kapal AS. Pernyataan tersebut menambah tekanan pada kebijakan luar negeri AS dan menimbulkan perdebatan di dalam partai Republik mengenai pendekatan militer versus diplomasi.
Pasar energi global merespons dengan lonjakan harga minyak mentah. Kontrak Brent untuk pengiriman Juli naik lebih dari lima persen setelah laporan serangan, menambah beban ekonomi pada negara-negara yang sudah terdampak oleh inflasi energi sejak awal konflik pada akhir Februari.
Prediksi Profesor China: Iran Sudah Kalah
Di sisi lain, seorang profesor dari Universitas Tsinghua, yang menolak disebutkan namanya, mengemukakan analisis bahwa meski Iran secara resmi mengajukan permohonan gencatan senjata Iran, realitas di lapangan menunjukkan Tehran telah kehilangan keunggulan strategis. Menurutnya, blokade maritim yang dipasang oleh Amerika Serikat sejak awal konflik telah mengurangi kemampuan Iran dalam mengontrol jalur pengiriman minyak, serta menurunkan moral pasukan militer.
Profesor tersebut menambahkan bahwa kemampuan Iran untuk memproduksi dan mengekspor minyak secara signifikan berkurang, sementara tekanan ekonomi internasional menggerus cadangan devisa negara. Dalam pandangannya, gencatan senjata yang diusulkan lebih merupakan taktik politik untuk mengurangi sanksi, bukan cerminan kekuatan militer yang masih dominan.
Implikasi Ekonomi dan Keamanan Regional
Kerusuhan di Selat Hormuz berdampak langsung pada stabilitas energi dunia, mengingat selat tersebut menyumbang sekitar satu per lima pasokan minyak global. Negara-negara di kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi dan Qatar, mengawasi dengan cermat setiap perkembangan, sementara sekutu dekat AS, UEA, telah memberlakukan pembelajaran jarak jauh di sekolah-sekolah hingga akhir pekan sebagai langkah antisipasi.
Analisis para pakar ekonomi menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak dapat memperburuk inflasi di negara-negara berkembang, sekaligus meningkatkan tekanan politik pada pemimpin-pemimpin yang berusaha menyeimbangkan antara kebijakan luar negeri agresif dan kebutuhan domestik.
Secara keseluruhan, dinamika antara permintaan gencatan senjata Iran, ancaman keras Trump, dan prediksi akademis China menciptakan sebuah labirin geopolitik yang semakin kompleks. Pemerintah-pemerintah dunia kini berupaya mencari jalur diplomatik yang dapat meredakan ketegangan tanpa mengorbankan kepentingan energi global.
Dengan situasi yang masih belum stabil, masa depan gencatan senjata Iran tetap menjadi pertanyaan besar bagi komunitas internasional, sementara tekanan ekonomi dan politik terus memicu dinamika baru di kawasan Timur Tengah.











