Keuangan.id – 15 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menegaskan tekadnya untuk memblokade Selat Hormuz dalam rangka menekan Iran agar kembali ke meja perundingan gencatan senjata. Dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa sejumlah negara sekutu bersedia memberikan dukungan logistik dan militer bagi operasi tersebut, namun pernyataan itu segera dibantah oleh pemerintah Inggris yang menolak memberi bantuan apa pun.
Trump Menyebutkan Dukungan Internasional
Menurut Trump, “Banyak negara di seluruh dunia, termasuk sekutu tradisional kami, telah menyatakan kesiapan mereka untuk membantu Amerika Serikat dalam menjaga keamanan Selat Hormuz.” Ia menambahkan bahwa bantuan tersebut mencakup penempatan kapal perang, penyediaan intelijen, serta operasi pembersihan ranjau di perairan yang dipersengketakan.
Presiden menegaskan tiga langkah utama yang akan diambil oleh Angkatan Laut AS: pengerahan lebih dari 15 kapal perang, termasuk kapal amfibi USS Tripoli yang dilengkapi jet F‑35B dan helikopter MV‑22 Osprey; penegakan larangan bagi kapal yang membayar pungutan kepada Iran; serta operasi pembersihan ranjau yang dijalankan oleh kapal perusak USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy. Ketiga langkah ini, kata Trump, bertujuan memaksa Iran membuka kembali jalur energi vital dunia.
Inggris Membantah Klaim Trump
Pada saat yang sama, Kementerian Luar Negeri Inggris mengeluarkan pernyataan resmi yang menolak semua tuduhan bahwa pemerintah London bersedia membantu operasi blokade tersebut. “Pemerintah Inggris tidak memiliki rencana atau niat untuk menyediakan dukungan militer atau logistik kepada Amerika Serikat dalam tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan di wilayah Teluk Persia,” kata juru bicara luar negeri Inggris.
Penolakan ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana koalisi internasional yang sebenarnya siap mendukung kebijakan agresif Washington. Sejumlah analis menilai bahwa pernyataan Trump lebih bersifat retorika politik domestik untuk memperkuat citra kerasnya di mata pendukungnya.
Reaksi Iran dan Dampak Ekonomi Global
Iran, yang telah menebarkan ranjau di Selat Hormuz pada tahun-tahun sebelumnya, menanggapi ancaman blokade dengan meningkatkan kesiapan militer di wilayahnya. Pihak militer Iran mengklaim bahwa mereka siap menangkis setiap upaya intervensi asing yang mengganggu kedaulatan nasional.
Selat Hormuz menyumbang sekitar 20% volume perdagangan minyak dunia. Oleh karena itu, setiap gangguan di jalur tersebut dapat menimbulkan lonjakan harga minyak mentah dan mengganggu rantai pasokan energi global. Pedagang komoditas di pasar internasional sudah mulai memperkirakan volatilitas harga, sementara perusahaan pelayaran menyiapkan rute alternatif meski menambah biaya operasional.
Langkah Diplomatik dan Prospek Negosiasi
Meski menekankan blokade, Trump juga membuka peluang negosiasi baru dengan Iran, menyatakan bahwa “jika Iran bersedia turun tangan secara konstruktif, Amerika Serikat siap mengakhiri tindakan militer.” Namun, pernyataan tersebut bertentangan dengan sikap keras yang telah diambil oleh beberapa anggota Kongres AS yang menolak setiap kompromi dengan Tehran.
Para diplomat regional, termasuk dari Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, menyuarakan keprihatinan mereka atas kemungkinan eskalasi militer yang dapat meluas menjadi konflik terbuka. Mereka menekankan pentingnya penyelesaian melalui dialog dan menolak penggunaan kekuatan sebagai sarana utama.
Secara keseluruhan, situasi di Selat Hormuz kini berada pada titik kritis. Klaim Trump tentang dukungan internasional tampak belum terkonfirmasi, sementara penolakan Inggris menambah ketidakpastian aliansi. Iran tetap menegaskan haknya atas kedaulatan wilayah, dan pasar global menyiapkan diri untuk menghadapi potensi guncangan ekonomi bila blokade benar‑benar dilaksanakan.
Dengan latar belakang geopolitik yang kompleks, perkembangan selanjutnya sangat bergantung pada keputusan strategis kedua belah pihak serta respons komunitas internasional yang lebih luas. Apabila dialog dapat kembali terjalin, risiko konfrontasi militer dapat diminimalisir; sebaliknya, kebuntuan diplomatik dapat memicu krisis energi yang meluas.











