Keuangan.id – 13 Maret 2026 | Jakarta – Di tengah volatilitas indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipengaruhi oleh dinamika makroekonomi global, empat perusahaan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) bersiap meluncurkan rights issue pada tahun 2026. Di antara mereka, PT Toba Bara Sejahtera Tbk (TOBA) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNBR) menjadi sorotan utama karena skala penawaran serta implikasinya terhadap likuiditas dan valuasi saham.
Latar Belakang Rights Issue
Rights issue merupakan mekanisme penerbitan saham baru kepada pemegang saham lama dengan harga diskon, bertujuan memperkuat struktur permodalan, mendanai ekspansi, atau mengurangi beban utang. Pada kuartal pertama 2026, BEI mencatat peningkatan minat perusahaan untuk memanfaatkan hak memesan efek terlebih dahulu (rights) sebagai alternatif pembiayaan dibandingkan penerbitan obligasi, mengingat suku bunga global yang masih relatif tinggi.
TOBA: Fokus pada Ekspansi Tambang Batubara
PT Toba Bara Sejahtera Tbk, produsen batubara termal dengan konsentrasi produksi di Sumatera Utara, mengumumkan rencana rights issue sebesar Rp1,2 triliun. Dana yang terkumpul direncanakan untuk pengembangan tambang baru di wilayah Toba, peningkatan kapasitas pengolahan, serta investasi dalam teknologi ramah lingkungan. Dengan harga penawaran yang ditetapkan 15% di bawah harga pasar, perusahaan berharap dapat menarik partisipasi tinggi dari investor institusional maupun ritel.
BNBR: Penguatan Modal untuk Digitalisasi dan Kredit Konsumer
Bank Negara Indonesia (BNI) menyiapkan rights issue sebesar Rp3,5 triliun, yang akan dialokasikan untuk memperkuat kecukupan modal (CAR) serta memperluas jaringan digital banking. Dalam konteks persaingan ketat di sektor perbankan, BNI berencana meningkatkan portofolio kredit konsumer dan usaha kecil menengah (UKM) dengan dukungan teknologi fintech. Penawaran rights issue BNI diperkirakan akan menurunkan rasio price‑to‑book (PBV) perusahaan, menjadikannya lebih menarik bagi investor yang mengincar saham undervalued.
Pengaruh Fluktuasi IHSG
IHSG telah mengalami pergerakan signifikan sejak awal tahun, dipengaruhi oleh kebijakan moneter Federal Reserve, harga komoditas, serta sentimen geopolitik. Fluktuasi ini menciptakan ketidakpastian bagi para investor, namun juga membuka peluang bagi saham yang menawarkan hak memesan efek dengan harga diskon. Analyst dari beberapa rumah sekuritas menilai bahwa rights issue pada periode volatil dapat menstimulasi permintaan karena investor mencari entry point yang lebih murah dibandingkan pasar spot.
Analisis Risiko dan Saran untuk Investor
- Likuiditas Saham: Penerbitan saham baru dapat menurunkan EPS (Earnings Per Share) jangka pendek, namun jika dana digunakan secara produktif, profitabilitas dapat kembali meningkat dalam 2‑3 tahun ke depan.
- Dilusi Kepemilikan: Pemegang saham yang tidak berpartisipasi akan mengalami dilusi. Oleh karena itu, penting untuk menilai kemampuan finansial pribadi sebelum memutuskan ikut rights issue.
- Fundamental Perusahaan: TOBA menunjukkan prospek pertumbuhan produksi yang kuat, sedangkan BNBR memiliki fundamental perbankan yang stabil dengan rasio NPL (Non‑Performing Loan) berada di bawah rata‑rata industri.
- Kondisi Makroekonomi: Jika inflasi global tetap tinggi, biaya pendanaan dapat meningkat, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi profitabilitas proyek ekspansi TOBA dan BNI.
- Strategi Diversifikasi: Memasukkan rights issue dalam portofolio dapat menjadi cara untuk menambah eksposur pada sektor energi dan keuangan, asalkan proporsi alokasi tidak melebihi batas risiko yang telah ditetapkan.
Prospek Jangka Panjang
Jika dana rights issue dimanfaatkan secara optimal, TOBA berpotensi meningkatkan produksi batubara sebesar 20% pada 2028, mengangkat pendapatan tahunan ke level Rp8 triliun. Sementara BNI, dengan tambahan modal, diproyeksikan dapat meningkatkan rasio kredit produktif (KPR) hingga 15% dan memperluas basis nasabah digital menjadi 30 juta pengguna pada akhir 2027. Kedua perusahaan diperkirakan akan menyesuaikan target dividend payout menjadi 30‑35% dari laba bersih, menambah daya tarik bagi investor yang mengincar pendapatan dividen.
Secara keseluruhan, rights issue yang dijalankan TOBA dan BNBR di tengah kondisi pasar yang tidak stabil dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan nilai perusahaan, asalkan investor melakukan analisis mendalam terhadap prospek bisnis, struktur modal, dan risiko makroekonomi. Keputusan partisipasi sebaiknya didasarkan pada profil risiko masing‑masing dan tujuan investasi jangka panjang.











