Keuangan.id – 02 April 2026 | Praja TNI berpangkat Praka (Prajurit Kepala) Farizal Romadhon, yang gugur dalam tugas perdamaian di Lebanon, sempat melakukan panggilan telepon kepada keluarganya sebelum peristiwa tragis itu terjadi. Menurut keluarga, percakapan itu berlangsung pada sore hari, tak lama setelah Farizal selesai menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci.
Di rumah duka keluarganya di Ledok, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, paman Farizal yang akrab dipanggil Sumijan mengungkapkan bahwa tidak ada pesan khusus yang disampaikan dalam percakapan tersebut. “Dia hanya mengobrol biasa, seperti biasanya. Kami berbicara tentang keluarganya, tentang rencana pulang, dan menunggu tugasnya selesai di bulan April,” ujar Sumijan dengan nada haru.
Latar Belakang Praka Farizal
Farizal Romadhon, yang lahir dan besar di Kulon Progo, telah mengabdi di TNI sejak usia muda. Sebelum masuk militer, ia dikenal sebagai sosok yang mandiri; ia bahkan sempat mencari penghasilan tambahan dengan berdagang burung kicauan. “Dia memang anak yang kerja keras, disiplin, dan selalu menolong orang di sekitarnya,” puji Sumijan.
Setelah menamatkan pendidikan militer, Farizal ditugaskan dalam operasi perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon. Penugasannya mencakup pengamanan zona demiliterisasi serta membantu proses rekonstruksi pasca konflik. Pada awal 2026, ia kembali ke Indonesia untuk menunaikan ibadah umrah, sebuah perjalanan spiritual yang biasanya dijadikan momen refleksi dan penyegaran mental bagi prajurit di luar negeri.
Umrah Sebagai Penanda Kedamaian
Percakapan telepon yang terjadi setelah umrah menandakan suasana hati Farizal yang tenteram. Ia menyampaikan rasa syukur atas kesempatan menunaikan ibadah, sekaligus mengungkapkan kerinduan pada keluarganya. “Saya baru saja kembali dari Tanah Suci, rasanya damai sekali. Saya harap bisa kembali ke tanah air bersama keluarga,” katanya dalam percakapan singkat itu.
Namun, harapan itu belum sempat terwujud. Pada 1 April 2026, laporan resmi menyatakan bahwa Farizal gugur dalam serangan yang menimpa pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon. Kejadian tersebut terjadi ketika pasukannya sedang menjalankan tugas pengamanan pada waktu salat Isya, menimbulkan duka mendalam bagi keluarga, rekan kerja, dan seluruh bangsa.
Kondisi Jenazah dan Proses Pemulangan
Keluarga masih menantikan kepastian kedatangan jenazah Farizal di tanah air. Sumijan menjelaskan bahwa pihak komandan memberikan perkiraan bahwa jenazah mungkin tiba pada hari Jumat, namun belum ada konfirmasi resmi. “Situasi di sana masih sulit. Ada kendala administratif dan logistik dalam proses pengambilan jenazah,” ujarnya.
Selama menunggu, rumah duka di Ledok dipenuhi pelayat yang membawa bunga dan ucapan belasungkawa. Masyarakat setempat serta relawan turut membantu proses pemakaman sementara, menunggu kedatangan jenazah untuk dimakamkan secara layak.
Dukungan dan Respon Masyarakat
Berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, pejabat daerah, dan organisasi veteran, memberikan dukungan moral kepada keluarga Farik. Mereka menekankan pentingnya menghormati pengorbanan prajurit serta memperkuat solidaritas nasional dalam menghadapi tragedi semacam ini.
Selain itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan terus memantau perkembangan situasi di Lebanon, berkoordinasi dengan otoritas internasional untuk memastikan proses repatriasi jenazah dapat berjalan lancar. Upaya diplomatik juga terus dilakukan untuk menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam misi perdamaian PBB.
Kasus Farizal menambah deretan prajurit TNI yang gugur dalam operasi luar negeri, mengingatkan publik akan risiko tinggi yang dihadapi oleh mereka yang bertugas jauh dari tanah air. Namun, melalui telepon terakhirnya, Farizal berhasil meninggalkan kesan hangat dan rasa damai yang menjadi warisan spiritual bagi keluarganya.
Dengan segala rasa duka, keluarga Farizal berharap agar pengorbanannya tidak sia-sia, melainkan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berbakti kepada negara dan agama. Mereka juga berdoa agar jenazahnya dapat pulang dengan selamat, sehingga proses pemakaman dapat diselesaikan secara layak dan menutup lembaran duka yang masih panjang.









