Berita  

Siswa di Daerah 3T dan Rawan Stunting Dapat MBG 6 Hari, Upaya Menekan Stunting di Indonesia

Siswa di Daerah 3T dan Rawan Stunting Dapat MBG 6 Hari, Upaya Menekan Stunting di Indonesia
Siswa di Daerah 3T dan Rawan Stunting Dapat MBG 6 Hari, Upaya Menekan Stunting di Indonesia

Keuangan.id – 14 Mei 2026 | Upaya menekan angka stunting di Indonesia menunjukkan geliat yang menjanjikan, tetapi belum sepenuhnya merata. Di satu sisi, angka nasional terus menurun. Di sisi lain, sejumlah wilayah masih tertinggal.

Data Kementerian Kesehatan melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting turun menjadi 19,8 persen. Angka ini menyusut cukup signifikan dibandingkan 27,7 persen pada 2019.

Penurunannya berlangsung bertahap: dari 24,4 persen pada 2021, turun menjadi 21,5 persen pada 2023, hingga akhirnya berada di bawah 20 persen pada 2024. Capaian tersebut mencerminkan hasil kerja kolektif berbagai pihak, dari intervensi gizi hingga penguatan layanan kesehatan.

Namun, di balik tren positif itu, ketimpangan antarwilayah masih terlihat jelas. Sejumlah provinsi berhasil mencatatkan angka stunting yang jauh lebih rendah dari rata-rata nasional. Bali, misalnya, hanya mencatat 8,6 persen. Jawa Timur menyusul dengan 14,7 persen, sementara Kepulauan Riau berada di angka 15 persen.

Angka-angka ini menggambarkan intervensi yang relatif lebih merata dan akses layanan yang lebih baik. Sementara itu, wilayah lain seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat prevalensi tertinggi, mencapai 37 persen. Sulawesi Barat berada di angka 35,4 persen, disusul Papua Barat Daya sebesar 30,5 persen.

Selisih yang lebar ini menegaskan bahwa akses terhadap gizi dan layanan kesehatan belum sepenuhnya setara. Padahal, keberhasilan menekan stunting sangat ditentukan pada fase paling krusial dalam kehidupan anak: 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Pada periode inilah intervensi, mulai dari masa kehamilan hingga pascakelahiran menjadi fondasi utama tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, upaya peningkatan kualitas hidup dan pelayanan kesehatan di daerah-daerah tertinggal harus terus ditingkatkan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diharapkan jadi motor percepatan penurunan stunting. Dengan demikian, diharapkan angka stunting di Indonesia dapat terus menurun dan kualitas hidup masyarakat dapat meningkat.

Dalam upaya menekan stunting, peran aktif dari berbagai pihak sangat dibutuhkan. Mulai dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, hingga masyarakat itu sendiri harus bersatu padu dalam mengatasi masalah ini.

Dengan demikian, diharapkan upaya penanggulangan stunting dapat berjalan lebih efektif dan efisien, sehingga angka stunting di Indonesia dapat terus menurun dan kualitas hidup masyarakat dapat meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *