Keuangan.id – 13 Mei 2026 | Kelangkaan solar subsidi di beberapa daerah, termasuk Sumatera Barat, telah berdampak serius terhadap distribusi pupuk subsidi. Hal ini karena truk pengangkut pupuk subsidi harus memutar dan menghadapi antrean panjang solar subsidi di SPBU.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, menyoroti fenomena kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar yang terjadi di berbagai daerah. Menurutnya, kondisi tersebut berdampak serius terhadap distribusi pupuk subsidi, terutama di wilayah terdampak bencana seperti jalur Lembah Anai yang hingga kini masih dalam tahap perbaikan pascabanjir akhir November 2025 lalu.
Perlakuan Khusus untuk Angkutan Pupuk Subsidi
Alex Indra Lukman mengusulkan perlakuan khusus bagi angkutan pupuk agar tidak terhambat antrean solar demi menjaga jadwal pemupukan petani. Ia menjelaskan, ruas jalan Lembah Anai merupakan akses vital yang menghubungkan Kota Padang dengan sejumlah kabupaten/kota di wilayah utara Sumatera Barat serta provinsi tetangga seperti Riau dan Sumatera Utara.
Pembatasan kendaraan di jalur tersebut membuat truk pengangkut pupuk subsidi harus memutar dan menghadapi antrean panjang solar subsidi di SPBU. Alex menegaskan ketepatan waktu distribusi pupuk sangat menentukan hasil produksi pertanian, sebab jadwal pemupukan harus menyesuaikan usia tanaman.
Jika pemupukan dilakukan di luar jadwal, tentunya berpotensi akan mengganggu hasil panen. Karena itu, ia meminta pemerintah memastikan ketersediaan pupuk subsidi di seluruh lini distribusi, khususnya menjelang musim tanam, agar target swasembada pangan nasional tidak terganggu.
Keterlambatan pemupukan akan mempengaruhi hasil panen yang ujungnya akan berimbas pada target swasembada pangan, yang merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Alex yang juga Ketua PDI Perjuangan Sumatera Barat menjelaskan, secara umum stok pupuk subsidi nasional masih aman karena distribusi telah dibagi berdasarkan regional pengelolaan perusahaan pupuk negara.
Namun, kelangkaan solar subsidi telah menjadi hambatan besar dalam distribusi pupuk subsidi. Alex berharap pemerintah dapat segera menyelesaikan masalah ini agar petani dapat mendapatkan pupuk secara tepat waktu dan target swasembada pangan nasional dapat tercapai.
Dalam beberapa kasus, sopir truk yang membawa pupuk subsidi bahkan dijanjikan upah sebesar Rp9 juta, namun malah menjadi tersangka di Babar. Hal ini menunjukkan bahwa kelangkaan solar subsidi tidak hanya berdampak pada distribusi pupuk, tetapi juga pada nasib sopir truk yang terlibat dalam proses distribusi.
Oleh karena itu, perlu ada solusi yang efektif untuk mengatasi kelangkaan solar subsidi dan memastikan bahwa distribusi pupuk subsidi dapat berjalan lancar. Dengan demikian, petani dapat mendapatkan pupuk secara tepat waktu dan target swasembada pangan nasional dapat tercapai.











