Keuangan.id – 28 April 2026 | Shi Yuqi, pemain bulu tangkis asal China yang pernah menjuarai kejuaraan dunia, kembali menjadi topik hangat setelah penarikan tak terduga pada Thomas Cup 2026 serta komentarnya yang mengundang perdebatan tentang sistem skor 15‑poin yang baru diresmikan oleh Badminton World Federation (BWF). Peristiwa ini menimbulkan spekulasi strategis, menambah tekanan pada rival India, dan memicu perdebatan di antara pemain senior serta generasi muda.
Latar Belakang Penarikan di Thomas Cup
Pada fase grup A Thomas Cup, China menghadapi Kanada. Shi Yuqi terdaftar dalam susunan pemain, namun tiba‑tiba tidak tampil pada pertandingan tersebut. BWF mengumumkan bahwa pemain nomor satu dunia tersebut absen karena sakit. Penarikan ini memberi kemenangan walkover kepada Victor Lai, yang mengamankan satu poin bagi tim China. Selanjutnya, China melanjutkan serangkaian kemenangan, menutup grup dengan skor 4‑1 dan melaju ke perempat final.
Penarikan Shi Yuqi menimbulkan pertanyaan mengenai motivasi taktis di balik keputusan tersebut. Beberapa analis menganggap hal ini sebagai strategi China untuk menghemat stamina sang juara menjelang laga krusial melawan India, di mana Shi diprediksi akan menjadi senjata utama.
Reaksi India dan Persiapan Menghadapi China
Tim India, yang telah menorehkan sejarah gemilang dengan meraih gelar pertama pada Thomas Cup 2022, menyambut kabar penarikan tersebut dengan campuran rasa optimis dan kewaspadaan. Pelatih India menegaskan bahwa meskipun Shi Yuqi absen pada pertandingan melawan Kanada, lawan berikutnya—Lakshya Sen—tetap menjadi ancaman serius. “Kami tidak akan meremehkan China, apalagi Shi Yuqi yang kembali fit. Fokus kami tetap pada persiapan mental dan taktik,” ujar pelatih tim India.
Sistem Skor 15‑Poin: Kontroversi dan Dampaknya
Perubahan sistem skor menjadi 15‑poin per game, yang akan resmi diterapkan pada Olimpiade Los Angeles 2028, menjadi sorotan utama dalam dunia bulu tangkis. Sistem ini bertujuan menghasilkan pertandingan yang lebih singkat, mengurangi beban fisik, dan memberikan fleksibilitas jadwal bagi penyiar. Namun, reaksi pemain terbagi.
Shi Yuqi memberikan komentar yang cukup jujur tentang transisi tersebut. Ia menyatakan, “Pertandingan yang lebih pendek mengurangi tuntutan fisik, namun tekanan dari lawan—khususnya pemain muda—akan lebih intens. Saya harus lebih fokus secara mental sejak awal.”
Berikut beberapa pandangan pemain lain:
- Zheng Siwei (ganda campuran, China): “Pemain muda mungkin tidak menyukai perubahan ini karena keunggulan mereka dalam stamina akan berkurang, sementara pemain senior dapat memperpanjang karier.
- Lee Chong Wei (mantan nomor 1 dunia, Malaysia): “Jika sistem 15‑poin ini benar‑benar diterapkan, saya tidak menutup kemungkinan kembali ke lapangan, atau melihat pemain berusia 36‑tahun masih kompetitif.
- Tse Ying Suet (ganda campuran, Hong Kong): “Skor yang lebih pendek menggoda, namun saya masih ragu untuk melanjutkan karier di usia 34 tahun.
Strategi China di Era Skor Baru
Dengan perubahan ini, taktik China diprediksi akan mengalami penyesuaian. Fokus pada serangan cepat, penguasaan rally sejak servis, serta pemanfaatan kesalahan lawan menjadi kunci. Shi Yuqi, yang dikenal dengan pukulan forehand tajam dan kemampuan bertahan, harus menyesuaikan tempo permainan agar tidak terjebak dalam tekanan awal.
Pelatih tim nasional China, Liu Yong, menambahkan, “Kami sedang menguji skenario latihan dengan format 15‑poin. Tujuannya agar pemain seperti Shi dapat mengembangkan kebiasaan mental yang diperlukan untuk mengendalikan setiap rally sejak awal.”
Masa Depan Shi Yuqi dan Implikasi bagi BWF
Penarikan di Thomas Cup sekaligus komentar tentang sistem skor menandai babak baru dalam karier Shi Yuqi. Meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai cedera, spekulasi bahwa China menggunakan taktik rotasi pemain tetap mengemuka. BWF, di sisi lain, harus menilai respons pemain dan penonton terhadap format baru, mengingat kritik mengenai potensi peningkatan tekanan pada pemain muda.
Jika sistem 15‑poin terbukti meningkatkan dinamika pertandingan tanpa mengorbankan kualitas, kemungkinan besar format ini akan bertahan dan menjadi standar kompetisi internasional. Sebaliknya, jika tekanan berlebih menurunkan kualitas teknis, BWF dapat mempertimbangkan penyesuaian kembali.
Yang pasti, Shi Yuqi akan tetap menjadi figur sentral dalam narasi bulu tangkis global, baik sebagai pemain yang menyesuaikan diri dengan perubahan maupun sebagai simbol strategi China di panggung internasional.











