Keuangan.id – 01 Mei 2026 | Israel kembali melancarkan serangan di wilayah selatan Lebanon pada akhir pekan ini, menewaskan lima orang termasuk seorang jurnalis yang meliput konflik. Serangan ini terjadi meski kedua pihak telah menandatangani gencatan senjata yang seharusnya menahan permusuhan sejak pertengahan April.
Latar Belakang Gencatan Senjata yang Rapuh
Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, yang difasilitasi oleh perwakilan diplomatik di Washington, seharusnya menahan operasi militer selama dua minggu. Namun, Israel mengumumkan kebijakan “Garis Kuning”—sebuah zona selebar kira-kira 10 kilometer di sepanjang perbatasan selatan Lebanon—yang memungkinkan mereka melakukan operasi militer dan penghancuran infrastruktur sipil di dalamnya. Pemerintah Lebanon menilai kebijakan ini sebagai pelanggaran tegas atas perjanjian yang telah disepakati.
Korban dan Dampak Serangan Terbaru
Menurut laporan Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan terbaru menewaskan lima orang, di antaranya seorang jurnalis yang sedang melaporkan kondisi di lapangan, dua perempuan, serta dua anak. Selain itu, sebanyak 23 orang dilaporkan luka-luka, termasuk delapan anak dan tujuh perempuan. Desa-desa di sekitar perbatasan, seperti Aita al-Shaab dan Maroun al-Ras, mengalami kerusakan struktural yang signifikan, dengan rumah-rumah yang hancur total dan fasilitas medis yang terbakar.
Jurnalis yang menjadi korban, bernama Karim Haddad, merupakan reporter senior yang telah melaporkan konflik di wilayah ini selama lebih dari satu dekade. Kematian Haddad memicu kecaman luas dari organisasi kebebasan pers internasional, yang menilai penembakan terhadap pekerja media sebagai pelanggaran serius terhadap Konvensi Jenewa.
Reaksi Pemerintah Lebanon dan Pemimpin Internasional
Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan bahwa Israel “tidak menghormati gencatan senjata dan terus melakukan aksi penghancuran rumah serta tempat ibadah.” Ia menyerukan kepada komunitas internasional untuk menekan Israel agar menghentikan serangan yang menargetkan warga sipil, tenaga medis, dan organisasi bantuan kemanusiaan. Pada hari yang sama, tiga paramedis yang dibunuh dalam serangan sebelumnya dimakamkan, menambah beban emosional bagi masyarakat Lebanon.
Para delegasi dari Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah mengunjungi lokasi serangan, menegaskan pentingnya penghormatan terhadap pekerja kemanusiaan. Sementara itu, pihak militer Israel pada Kamis mengumumkan evakuasi delapan desa di selatan sebagai langkah persiapan operasi militer lebih lanjut, meski belum ada konfirmasi resmi tentang tujuan operasi tersebut.
Pernyataan Hezbollah dan Dinamika Konflik
Hezbollah menegaskan bahwa mereka telah meluncurkan beberapa serangan roket ke arah wilayah utara Israel sebagai balasan terhadap serangan Israel di Lebanon. Kelompok militan ini menolak teks gencatan senjata yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada November 2024, mengklaim bahwa perjanjian tersebut tidak pernah dibahas secara resmi dengan kabinet Lebanon.
Ketua Parlemen Nabih Berri, yang merupakan sekutu Hezbollah, menyatakan bahwa pernyataan Presiden Aoun tentang pelanggaran gencatan senjata “sangat tidak akurat” dan menuduh Israel memanipulasi fakta untuk membenarkan aksi militer mereka.
Analisis Dampak Regional
Serangan berulang ini meningkatkan ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon, menimbulkan risiko eskalasi yang lebih luas. Para analis menilai bahwa keberlanjutan gencatan senjata sangat bergantung pada tekanan diplomatik yang dapat diberikan oleh komunitas internasional, terutama melalui Dewan Keamanan PBB. Selain itu, hilangnya jurnalis seperti Karim Haddad menyoroti bahaya yang dihadapi oleh pekerja media dalam zona konflik, mengingat pentingnya mereka dalam menyampaikan informasi yang akurat kepada publik global.
Dengan ribuan warga yang telah kehilangan tempat tinggal dan menjadi pengungsi internal, situasi kemanusiaan di selatan Lebanon semakin kritis. Organisasi bantuan melaporkan kesulitan dalam menyalurkan bantuan karena infrastruktur yang hancur dan risiko serangan lanjutan yang masih mengintai.
Ke depan, dunia menantikan langkah diplomatik apa yang akan diambil untuk menegakkan kembali kedamaian di wilayah ini, sambil menuntut akuntabilitas atas pelanggaran hak asasi manusia yang terus terjadi di tengah serangan Israel Lebanon yang masih berlangsung.
