Keuangan.id – 15 April 2026 | Serangan militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026 menimbulkan dampak ekonomi dan politik yang signifikan bagi Iran. Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, memperkirakan kerugian material mencapai sekitar 270 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan 4.626 triliun rupiah. Angka tersebut merupakan perkiraan awal yang masih bersifat kasar, namun menjadi indikator besarnya beban yang harus ditanggung Iran pasca serangan.
Skala Kerugian dan Proses Penilaian
Menurut pernyataan resmi, otoritas ekonomi Iran akan melakukan penilaian dalam tiga tahap. Tahap pertama meliputi penilaian kerusakan bangunan, terutama infrastruktur penting yang terdampak. Tahap kedua akan menilai kerugian pendapatan anggaran, sedangkan tahap ketiga memfokuskan pada dampak penutupan industri strategis. Penilaian tersebut diharapkan menghasilkan angka yang lebih akurat dan menjadi dasar klaim kompensasi melalui jalur hukum internasional.
Korban dan Lokasi Serangan
Serangan paling mematikan terjadi di sebuah sekolah dasar di kota Minab, provinsi Hormozgan, selatan Iran, pada 28 Februari 2026. Insiden menewaskan sekitar 170 orang, termasuk anak‑anak sekolah, dan memicu kecaman internasional. Selain itu, sumber tidak resmi menyebutkan bahwa serangan awal menargetkan kediaman eks‑menlu Iran dan menewaskan pemimpin tertinggi negara, Ayatollah Ali Khamenei, beserta beberapa anggota keluarganya, meski fakta ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Balasan Iran dan Dampak Regional
Menanggapi serangan tersebut, Iran meluncurkan serangkaian serangan balasan terhadap aset‑aset Amerika Serikat di negara‑negara Teluk serta menutup Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menghubungkan Laut Arab dengan Samudra Hindia. Penutupan selat selama beberapa hari mengakibatkan fluktuasi harga minyak dunia dan menambah tekanan pada perekonomian global.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Sejak 8 April 2026, kedua belah pihak mengumumkan gencatan senjata yang dijadwalkan berlangsung selama dua minggu. Namun, gencatan tersebut dinilai rapuh karena kedua pihak saling menuduh pelanggaran. Pihak Amerika Serikat dan sekutunya menegaskan bahwa setiap pelanggaran akan menjadi dasar untuk mengakhiri gencatan, sementara Iran mengklaim bahwa serangan kecil dari pihak Amerika di wilayahnya merupakan provokasi.
Upaya Diplomasi yang Gagal
Upaya diplomatik juga sempat dilakukan di Islamabad, Pakistan, di mana perwakilan Amerika Serikat dan Iran duduk bersama untuk merundingkan perdamaian permanen di kawasan. Negosiasi tersebut berakhir tanpa kesepakatan, terutama karena perbedaan pandangan mengenai program nuklir Iran. Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menegaskan bahwa inti perselisihan berpusat pada isu senjata nuklir dan keamanan regional.
Iran menegaskan komitmennya untuk menuntut ganti rugi atas “pertumpahan darah orang‑orang terkasih kami di sekolah Minab” melalui jalur hukum internasional, termasuk permohonan kompensasi kepada keluarga korban. Pemerintah Iran juga mengumumkan rencana meningkatkan pertahanan siber dan memperkuat aliansi dengan negara‑negara yang menentang dominasi militer Amerika di Timur Tengah.
Secara keseluruhan, serangan gabungan AS‑Israel telah menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi Iran, sekaligus memicu ketegangan politik yang dapat berlarut‑larut. Meskipun gencatan senjata memberikan ruang bernapas sementara, risiko eskalasi kembali tetap tinggi mengingat kepentingan strategis masing‑masing pihak di kawasan.











